TANTRA BHAIRAWA

Ilustrasi gambar google.com

Banyak yang memberi nilai negatif tentang Tantra,  bahkan pelaku yang tidak mengerti yang sebenarnya menilainya negatif,  yang sesungguhnya yang negatif adalah Diri Pelaku bukan ilmunya akan tetapi si pengguna,  pengguna yang tidak siap mental akan terseret sisi negatif kekuatan miliknya sendiri.

Tantra adalah sisi mistis Panca Maha Buta itu sendiri, kekuatan yang mencipta di sisi wujud penyebab wujud materi, Bapa-Akasa-Maskulin kekuatan Dewata mewakili Ether sebagai Lingga sedangkan Ibu-Pertiwi-Feminin kekuatan Raksa-yoni, gabungan keduanya menterjemahkan Raganta Jati, penunggalan meme-bapa raganta jati jalan Moksha/kelepasan,  senggama dua Poros wujud ini merupakan sumber kekuatan cipta berpancer Raganta Jati,  akan tetapi Raganta Jati yang dikuasai kesadaran wujud menghasilkan cipta rwa-bhineda dalam pusaran baik - buruk.

Cipta yang berpancer kesadaran sejati mencipta berdasar kebijaksanaan semesta, ketika manusia menjadi kebenaran  diri melayani fungsi pemeliharaan semesta berbuah indah kemakmuran hidup, artha yang melampaui baik-buruk, karma berpahala, menerima buah persembahan diri melayani GUNA pemeliharaan semesta,  sesuai sub level evolusi kesadaran,  siapa mendapat apa sesuai apa dan bagaimana persembahan dirinya, begitu tentang Ratu Adil.

Bahwa yang mendapati sisi negatif Tantra adalah mereka yang masih berkesadaran wujud, hanya kesadaran sejati yang mengendarai kekuatan Tantra yang menjadi kekuatan cipta setara pencipta semesta,  begitulah awal mula, yang hidup pada wujud hanya memanfaatkan apa yang tersedia oleh Sang Pencipta, ketidak mampuan diri mengelola sisi negatif Tantra bukan berarti sumber kekuatan cipta itu yang negatif akan tetapi lebih kepada ketidak mampuan si pengguna.

Tantra sendiri gabungan sisi femeninin maskulin atau bapak ibu kehidupan yang menjadi perwujudan tubuh fisik,  antara kekuatan cipta dewata dan pendelegasian kekuatan cipta,  justru ketidakmampuan individu melampaui kesadaran wujud yang mengandung dua sisi itu yang menyeret Sang diri berprilaku negatif dan kekuatan itu menjadi racun dewata.

Saat kesadaran tunggal  pada kekuatan cipta semesta - tidak ada yang mampu menggoyahkan kehendaknya, keseimbangan atas penunggalan  kedua sisi kekuatan wujud itulah kekuatan  yang sama yang mencipta semesta raya, kekuatan Cipta Tantra tunduk pada kehendak-nya, melayani kehendaknya/kamadhuk : pemenuh segala keinginan, dewata tunduk raksasa takluk alam semesta bersuka ria membantu kehendak pemeliharaan hidup-nya, yang demikian itu tarian semesta.

Inilah simpul aturan maha sempurna, yang tidak mampu mencapai ketunggalan seutuhnya tidak mampu mengakses kekuatan MAHA'nya secara sempurna, penggali hanya bisa memanfaatkan kekuatan cipta semesta sesuai ketunggalan yang dicapainya, sedemikian apa yang telah di ciptanya di kehidupan itu sajalah kekuatan tuhan yang diwarisi-nya.

Dan apapun alasan pembenarnya - dia belumlah berhak mengklaim diri mewakili Tuhan, bahwa kekuatan cipta itu sendiri memiliki strata apakah strata bha-tha-ra,  apakah dewa-ta atau hanya raksa-sa/keinginan wujud berdasarkan naluri/buta/omong-omong belaka, apakah entah pelaku science modern memiliki otoritas khusus tanpa harus mengikuti aturan semesta untuk bisa membuka secara gamblang pengetahuan penciptaan.

Apapun itu apapun alasan pembenar - yang menyimpang dari kehendak semesta mengarah penghancuran kehidupan - sekalipun mereka bersembunyi di balik nama Tuhan akan tetapi Tuhan yang mereka yakini tercermin pada tingkah laku mereka, karena setiap diri mewakili kesadaran Sang Pencipta dan pada tingkah lakunya lah Tuhan-nya tercermin, Tuhan mewujud atas apa yang tercipta demikian Tuhan terwujud pada tingkah laku.

Jika kita dengan enteng menyebut bencana alam sebagai kehendak Tuhan begitu pula tingkah laku buruk manusia tidak lain bencana Tuhan dan tingkah laku baik sebagai berkah Tuhan,  jika kematian merupakan kuasa Tuhan demikian juga peliharaan hidup kuasa Tuhan,  jika saja demikian kebenarannya - Sang Diri hanya perlu duduk manis berpangku tangan - bersabar menunggu kuasanya, kasus ditutup - jika perdebatan dilanjutkan akan terjadi kontradiksi, pembenaran - pembenaran akan muncul sebagai pembelaan pada Tuhan - kekacauan pikir pun tidak terhindarkan, yang tidak ada tidak akan pernah ada yang ada adalah kebenaran yang mengemuka di dua sisi.

Jika yang diyakini ternyata menimbulkan kekacauan di kehidupan maka itulah kebenaran yang tuhanya ciptakan - sekalipun tidak seluruh yang meyakini kebenaran dimaksud ikut membuat kekacauan - itu semata-mata atas kesadaran pribadinya bukan karena apa yang diyakininya, samasekali tidak ada keterkaitan pada keyakinan akan tetapi atas kesadaran individu belaka.

Tidak ada bedanya dengan dualisme prilaku hidup manusia lain  yang hanya bergantung pada kesederhanaan sadarnya - ada yang baik dan yang tidak baik tergantung tingkat kesadaranya,  sedangkan yang dimaksud kehendak semesta adalah kebenaran absolut atas GUNA pemeliharaan semesta yang berhadiah kemakmuran hidup, dan cara satu-satunya melayani kebenaran sejati itu hanya dengan MANUNGGAL,  begitulah kebenaran keturunan MANU.

Hanya ketika penunggalan itu mencapai kesempurnaan - kekuatan cipta semesta dapat dikuasai,  bahwa kekuatan itu ada dan tertidur pada setiap diri - akan tetapi kesempurnaan sendiri memiliki aturan sempurna yang itu berarti untuk membangunkannya harus mencapai kesempurnaan sesuai ketentuan dan aturan yang ditetapkan dan itu hanya tercapai atas penunggalan dua sisi kesadaran.

Hanya itu cara mewarisi kekuatan cipta semesta,  sebelum itu hanyalah pencapai tingkatan dewata atau raksasa,  sedemikian manusialah dewata maupun raksasa, yang mencapai kesempurnaan  disebut BHA-THA-RA,  BHA ING RWA : kekuatan cipta yang dimotori tarik-menarik dualisme BHA THA RA atau Sang Hyang GURU : yang telah melampaui ketiga sub alam wujud yang melampaui kesadaran ketiga sifat kemaha-kuasaan Sang Pencipta,  cipta-pelihara-lebur,  dia juga yang disebut guru langit,  IA juga yang berkuasa atas ketiga alam bhur/buta - bwah/rasa - swaha/conciusness.

Dengan demikian Sang Pencipta/Tuhan turun membumi berbicara dengan mencipta,  dan kesempurnaan  penunggalan wujud hanya dapat dicapai dengan menurunkan pengetahuan kebenaran sejati GUNA mencerahkan seluruh sifat kelahiran elemen penopang wujud, sekalipun mereka menolaknya akan tetap terseret oleh peresapan - perangkaian keterhubungan semesta, sehingga terbentuk piramida causa prima.

Bahwa Tuhan mereka sendiri tidak berdaya dan tetap harus tunduk pada siklus jaman KALI apalagi pada Kehendak Semesta,  sesungguhnya hanya atas kebersamaan itulah  jalan memelihara kesempurnaan hidup  tercapai - sama persis seperti kelahiran yang di ikuti saudara empat,  demikian juga yang berlaku pada pencapaian kekuatan cipta semesta atas GUNA PEMELIHARAAN SEMESTA yang berhadiah kemuliaan hidup.

Tarik menarik akan selalu terjadi, sekalipun kadang kesadaran yang telah tunggal terseret kehendak penguasa Tantra alam makro, maafkanlah dirimu - tidak usah merisaukan yang bersifat sementara,  semua itu mengajarkan dan membiasakan Sang diri - berkehendak semesta sebagai pemenuh keinginan sesaat semua manusia di kedua sisi,  akan tetapi resiko karma buruknya ditanggung oleh yang berkeinginan,  dengan begitu IA dikenal sebagai pemenuh segala keinginan.

Sekalipun niat baik - belum tentu berbuah baik,  ego dan pemaksaan akan berakhir penderitaan dan kekalahan - karena semua berada dalam lingkup kebijaksanaan, kebijaksanaan berarti kesadaran atas sebab dan akibat, untuk melampaui sebab-akibat hanya bisa melalaui pelampauan - pelamoauan menghasilkan kebijaksanaan,  sehingga wujud Sang Diri hanyalah kebijaksanaan atau Tuhan pencipta itu sendiri - jika Tuhan masih dibutuhkan untuk membesarkan hati yang sedang kerdil.

Melampaui manunggal Sang diri,  diri diterjemahkan menjadi sadar - "SADAR" tunggal Sang DIRI mengamati wujud manyatu kembali pada "FISIK" mencipta suasana "HATI",  demikian terjadi TIGA PENUNGGALAN sekaligus hanya dengan satu upaya pelampaua, menjadi!

Atlantis Ra

Post a Comment

0 Comments