Seorang Loper koran menjadi Milyader karena sengatan lebah 1 Milyar


Nir Peretz yang berbaju putih

Gatra Dewata| Payangan | Gianyar| International Flower Competition yang diselenggarakan oleh Hanging Gardens Of Bali membawa seorang I Nyoman Hendrawan yang awalnya seorang loper koran dengan hobby berkebun ini, kelahiran 20 Juli 1973 yang baru bulan Juli lalu ber ulang tahun yang berasal dari Banjar adat Jaang, Desa Buahan, Kecamatan Payangan, Kabupaten Gianyar menjadi seorang milyader.

Kebun karya I Nyoman Hendrawan

Hadiah yang diterimanya itu yang infonya di rogoh dari kantong koceknya sendiri seorang dermawan Nir Peretz asal kewarganegaraan Inggris sebesar 1 Milyar Rupiah.

I Nyoman Hendrawan juara pertama IFC

Hadiah yang diterimanya itu I Nyoman sumbangkan sebagian kepada masyarakat sekitar rumahnya, organisasi yang ada didesanya serta beliau ingin juga menata daerah desanya tempatnya tinggal. "Saya tidak pernah menyangka akan memenangkan lomba ini, karena hobby berkebun ini sudah lama saya lakukan sebelumnya dengan kakak saya" terang Bli Nyoman.

I Wayan Suardana Sang Kakak

I Wayan Suardana sang kakak yang masih satu dapur dengan adiknya yang nomer tiga ini adalah orang yang paling andil ikut membantu dari awal perencanaan dan menata kebun pekarangan depan rumah yang bisa meraih juara pertama dari 185 peserta yang ikut lomba.

Tema pelestarian Lebah Madu ini tak membuat mereka berdua kehilangan akal dengan ide-ide penataannya.

Kebun dengan kandang lebah 1 milyar

"Lebah membutuhkan sari bunga, jadi kami mencari tanaman bunga yang harus selalu berbunga" terang Bli Wayan kepada kami.

Hanging Gardens Of Bali

Hanging Gardens Of Bali dengan tangan seorang Nir Peretz mampu membuat kompetisi yang terbilang unik, "kita ingin lomba dalam bentuk pelestarian ini dapat terus dilakukan kedepannya" , niat seorang Nir adalah ingin merubah seorang pemenang menjadikan center atas perubahan sekitarnya dia berada, menyebarkan pelestarian yang dimulai dengan depan pekarangan rumah keseluruh lingkungan tempatnya tinggal, bukan pada hadiah yang sepertinya timpang antara pemenang yang satu dengan yang lainnya.

Efek pelestarian yang seperti bola salju inilah yang ingin dikedepankan seorang Nir, yang mencoba mengedukasi lewat pemikirannya.

"Ini Kompetisi kami yang pertama dan mendapatkan apresiasi dari semua kalangan baik dari pemerintah daerah khususnya Bupati Gianyar Agus Mahayastra. Kita berharap kedepannya bukan hanya dari pihak swasta namun pemerintah ikut berperan penting dalam pelestarian alam dan lingkungan". Saat menerangkan dengan wartawan yang hadir (22/7) di Hotel dengan pemandangan menakjubkan itu.

Personil Gatra dewata menikmati kebun lebah

Acara yang dilaksanakan pada 29 Juni 2019 lalu itu dihadiri pula oleh juri lainnya, yaitu Puja Astawa (komedian Bali), Zsa-Zsa Yusharyahya (pembawa acara berita di salah satu stasiun TV Indonesia), dan I Nyoman Nuarta (seniman), dari 185 peserta ini, hanya 10 finalis yang lolos ke Grand Final, yakni Nyoman Hendrawan (Juara 1), Wayan Sanglah (2), Agus Wisnu (3), Ketut Swastawa (4), Ketut Ragawa (5), Ketut Juniarta (6), Astiti Rahayu (7), Made Barto (8), Komang Winda (9), dan Putu Desi (10) telah berakhir.

Semboyan kebun pak Nyoman 

“Namun rencana kedepan akan dibagi menjadi tiga kategori kompetisi yang akan melibatkan peserta dari seluruh Indonesia yang akan diadakan di Jakarta diikuti seluruh provinsi di tanah air. Semoga tahun depan akan mengikutsertakan siswa sekolah dasar (SD) ini dapat mencari bibit-bibit baru yang merupakan edukasi bagi masa depan pelestarian alam dan lingkungan. Mereka boleh mendaftar lewat email kami,” ujar Nir Peretz. (Ray)


Post a Comment

0 Comments