"KEHENDAK BEBAS -BEBAS BERKEHENDAK"

Gambar Ilustrasi, (google)

Ketika kita jujur mengakui,  segala sesuatu di dalam diri kita adalah kepentingan, kepentingan pisik maupun psikis,  tidur karena ngantuk makan karena lapar,  mandi,  bersolek untuk menjaga penampilan,  menjaga prilaku agar terlihat beradat, , meditasi/sembahyang agar rasa hidup damai

Yang berbeda adalah cara-cara menterjemahkan  kepentingan, ada yang apa adanya - ada yang ambisius ada pula yang egois demi kepentinganya, tergantung sifat kelahiran masing-masing  dan apa yang dipelajarinya dari hidup,  Dan yang random tidak mungkin diseragamkan, dengan pemahaman sederhana seperti itu kita bisa melihat dengan lebih jernih, siapa dan apa yang bersifat itu sendiri yang memilih berkelompok berkumpul dengan sesama yang memiliki kesetaraan getaran hidup

Seorang petani akan kesulitan jika dipaksa harus berdagang,  demikian sebaliknya seorang pedagang karena tidak menemukan kenyamanan dengan  kehidupan bertani,  sekalipun sampai berbusa kita katakan hidup sebagai petani lebih mulia dari pekerjaan yang lain,  tetap saja kehendak bebas lebih mengarah kepada apa yang mendstangkan rasa nyaman,   demikian pada tingkatan seterusnya dan kebenaran seperti itu berlaku di semua lini kehidupan,  karena entitas hidup itu sendiri memiliki kehendak bebas

Kemelekatan membuat orang memilih melekat pada kebenaran yang disukainya,  cerita-cerita kehidupan yang disodorkan kedepan hidung kehidupan-nya tidak mampu memantik cahaya kebijaksanaan sadar mereka, justru memilih menyembah cerita hidup menjadi perwakilan kebenaran Tuhan

Itupun benar,
akan tetapi maksud sang dalang menampilkan yang demikian tentu tidak untuk maksud agar disembah, tetapi bermaksud mengarahkan kesadaran berdiri di tengah-tengah agar tercapai kebijaksanaan,  bukan membiarkan diri tersesat menjadi pembebek prilaku hidup orang lain - yang dipaksakan agar terlihat mulia, padahal di gerai bangunan berkardus - kardus mulia jarang ada yang mau menghampiri - karena keterbatasan dana

Jalan tengah,
seumur hidup berprasangka tentang kebenaran, berlompatan ke kiri ke kanan yang ditemuinya hanya kebenaran atas kesadaran yang abadi yang selalu ditemuinya di ujung pencarian, kesadaran menimbang berkesimpulan dan dia pulalah yang mengambil keputusan

Jalan tengah di atas  kesadaran yang mengetahui dan menjalani salah-benar,  juga yang memperbaiki prilaku adalah dia, tidak ada yang lain, tidak ada sabda yang bisa membuat tunduk dan dipatuhi selain yang menjadi keputusan kesadaran itu sendiri, keputusan kesadaran ini yang turun yang menjadi ketetapan hati,  dan atas kesadaran pula ia mengingkari ketetapan hati yang dibuatnya sendiri,  begitu bukan ?

Seperti rasa senang sesaat menikmati keindahan pemandangan gunung lembah, pada akhirnya kembali lagi pada rutinitas kehidupan, kembali lagi pada kesadaran menuntaskan pekerjaan hidup, melayani hidup bersama senang-susah di dalamnya,  demikianlah contoh sedrrhama ketidak melekatan, jika saja kita mau menyederhanakan kebenaran,  maka jarak kita dengan kekuatan sang pencipta pun semakin dekat bahkan satu kehendak sekehendak kebenaran  sejati

Apakah kehendak yang sejati,  kehendak yang sejati agar engkau bertanya !!! ,  dari pertanyaan tersebut berupaya menemukan jawab, pertanyaan dan upaya menemukan jawab itulah yang dimaksud kehedak bebas, sebanyak-banyaknya kehendak sebanyak itu pulalah keterhalangan muncul untuk di tuntaskan, mengapa demikian karena kehendak membutuhkan perjuangan, semakin banyak kehendak harus dibarengi upaya yang sama banyak dengan kehendak dimaksud, ketika diri telah benar dan siap atas kehendaknya maka dia pasti ada disana  menjadi perwujudan kehendaknya

Kenanlilah kehendak hidupmu - maka dirimu akan segera mengetahui jawaban atas apa yang datang menghampiri hidupmu,  semisal kehidupan sebagai pencuri akan berhubungan dengan penjara - yang lebih beruntung - mati dikeroyok masa, demikian koruptor melakukan korupsi pastilah sudah mempertimbangkan segala resikonya

Sekalipun Tuhan datang menasehati bahkan mengancamnya dengan membentangkan keadaan neraka jahanam, dia akan menjawab : maaf Tuhan,  segala resikonya sudah saya pikirkan, Tuhan jangan hanya bisa menakut-nakuti,  berikan saya solusi bagimana caranya supaya perbuatan saya tidak ketahuan, Tuhan pun pasti tersipu malu mendengar jawaban seperti itu

Yang ditakuti koruptor bukan iblis bukan jin bukan siksa neraka, yang dia paling takut adalah merasa menjadi orang  bodoh jika tidak memanfaatkan kesempatan yang ada, toh sejarah mencatat dijaman dahulu pun negara menjajah negara demi kekayaan dan kejayaan,  kaum menaklukan kaum yang lain demi kekayaan, memang benar mereka berperang memperjuangkan kebenaran,  yaitu kebenaran atas kepentingan hidup dan mempertahankan eksistensi bahkan ketercukupan hidup,  jika memungkinkan  - kekayaan sampai keturunan  kedelapan pun akan dipersiapkan, begitulah realita kehidupan,  apapun alasan yang digunkaan untuk menyelubungi kepentingan dimaksud

Semisal upaya pemenuhan sebuah kehendak di mulai dari dunia spirit,  setinggi apapun dia mencari,  yang ada hanya kosong dan kesadaran itu saja, yang belum memahami kesejatian akan menyimpulkan,  owh yang tertinggi itu hanya kekosongan,  done,  saya sudah mencapai puncak, kemudian turun kembali ke dunia materi,  ternyata kehidupan alam materi tidak berubah seperti pencapaian yang tertinggi yang di capai di sisi spiritual

Mengapa capaian spiritual dan capaian kehidupan materi tidak setara,  bukankah seharusnya setara, kebingungan kebingungan seperti inilah yang banyak menjerumuskan para penggali spiritual ke alam kegelapan, dengan pengetahuanya menerima tawaran - tawaran kekuatan - kekuatan ghaib untuk membantu memudahkan hidupnya, hingga akhirnya terpeleset menjadi budak ghaib

Apa yang dipakai (dimanfaatkan) akan meminta pelayanan yang sama atas bantuanya, terlepas setinggi apapun tingkatan ghaib dimaksud - sama saja mengandung pengembalian atas balas jasa, merekapun merindukan lepas dari keabadian alam hantu eh alam roh,  tidak mungkin pelaku spiritual tidak mengerti yang seperti ini kecuali memang dia sendiri memutuskan untuk mengambil segenap resikonya

Hanya manusia yang bisa membantu para ghaib ini melepaskan diri dari penjara alam roh,  tawar-menawar pun terjadi entah sejauh mana,   yang berkeinginan besar harus mengorbankan yang besar,  demikian keinginan yang kecil cukup diganti dengan darah ayam atau darah cicak, karena begitulah aturan kekuatan Tantra,  identik dengan darah dan kengerian

Wujud kekuatan itu menyeramkan,  dewata sekalipun tunduk apalagi hanya yang belajar sebatas kulit, pasti keadaanya lebih parah lagi, dipenuhi tapi di ikat agar tidak terlalu mengacau,  cukup hanya sebatas kemampuan menggertak (provokasi)  tidak bisa lebih,  karena tanganya terikat sehingga tidak bisa memukul hanya manut berjalan lurus sesuai perjanjian yang dibuat

Tidak apa-apa,  itu pilihan dengan segenap resikonya, apa yang di getarkan kembali pada penggetar,  semua itu menyangkut kehendak bebas,   bagi yang terlahir berkehendak melampaui atau yang bosan berilusi,  jalanilah pelampauan, caranya sudah dijelaskan panjang lebar, bertemu kekosongan tanpa kehendak bukanlah yang tertinggi,  karena sadar itu tetap ada selagi ada wujud fisik

Tanpa keinginan dan membiarkan badan memori jatuh ke alam ruh bukanlah tindakan  bijak, diam berpuas diri semasih mampu mengusahakan kemuliaan tertinggi sama saja menghalangi kehendak bebas, yang itu berarti menghalangi sifat alamiah hidup itu sendiri

Tunggalkan diri pada yang kosong,  hadapi segala resikonya,  kehidupan akan mengenangmu sebagai Ksatria kehidupan, jalan terbentang,  ruang - ruang telah kosong terbuka menunggu di isi,   menunggu yang memiliki cukup keberanian dan keinginan mulia, kosong mengisi, yang pasti tidak ada tempat bagi para pemohon,  karena tempat tertinggi para pemohon hanya pada egonya

Sadar adalah perwakilan sang diri,  sang diri adalah mata hidup itu sendiri,  kemuliaan maha hidup/sang diri adalah kemuliaan diri,  kekuatan maha hidup adalah kekuatan milik sang diri,  semua itu diwarisi oleh bayangannya/ perwakilan-nya,  bangkitkan itu bersama-sama bergotong royong saling asah saling asih saling asuh, menjadi lah manusia yang benar-benar merdeka/mandiri/swaha di atas kehendak bebas

Atlantia Ra

Post a Comment

0 Comments