"KEBIJAKSANAAN - KEBENARAN - KEADILAN ''

Ilustrasi gambar Google

Kemaha sempurnaan itu kebijaksanaan tertinggi, dalam realitas kehidupan atas sadar kita,  kebijaksanaan muncul saat sang diri telah mampu melihat dalam keseimbangan hidup atau melihat kehidupan dari sudut pandang universal, kesadaran yang dapat memandang pada keseimbangan semesta tercipta atas kesempurnaan,  semua itu dimulai dari kekosongan

Kekosongan tidak lain sang diri, dari itu terwujud Akasa/ether Bayu/udara - Teja/api Apah/air Pertiwi, Akasa Pertiwi ini ang ah,  pembuka-penutup,  Pembuka dan penutup ini ber-Elemen sama lima sub elemen,  yang satu elemen yang halus yang satu lagi elemen yang padat/kasar,  ditengah diantara buka tutup ada tiga lapisan udara api dan air,  itu berarti udara terpecah menjadi 2 bagian api dan air,  di dunia nyata seperti samudra yang dipanasi api/matahari menjadi awan,  lalu  kembali kebumi
Melalui hujan menjadi air yang meresap ketanah,  dari sanalah tumbuh lumut yang menghancurkan batu, membentuk pasir,  dan seterusnya dan seterusnya

Pengetahuan kimia fisika itu sama  berasal dari kedua kondisi wujud tiada wujud Akasa Pertiwi,  dari Akasa kekuatan hidup bukan wujud ini muncul api dari kelima elemen yang menyertainya, dari api muncul air,  air menterjemahkan wujud Akasa elemen halus menjadi Pertiwi elemen padat yang diawali terwujudnya api dan air lalu memadat,  akan tetapi proses terwujudnya api dan air ini tidak lepas dari lingkup Akasa hingga elemen dasar Akasa ini memadat menjadi Pertiwi

Begitulah sekilas panchamahabutha,  dan dari itulah untuk manunggal harus melakukan pembalikan proses yang sama seperti pembentukan dari Akasa ke Pertiwi, peleburan guna penunggalan  diri dari Pertiwi ke Akasa tunggal sang diri  sedemikian tidak ada satupun proses tersebut yang bisa di langkahi untuk menyatu dengan sang Pencipta

Dan peleburan guna penunggalan harus dilakukan semasa masih ada didslam tubuh kasar, setelah mati atau berada di alam roh setinggi apapun tidak ada lagi kesempatan penunggalan pada pencipta, itu berarti untuk manunggal tidak bisa dengan roh atau melalui alam roh tetapi hanya dengan kesejatian itu saja , apalagi hanya dengan DOA dan gerakan sembahyang,  itu pengetahuan yang bisa dikatakan terlalu dangkal hanya sebatas kulit

Demikian pelampauan harus diawali dari kondisi kosong,  kondisi manunggal pada Pertiwi,  dari kondisi tunggal inilah perlahan berjalan merambat keatas menuju Akasa atau mencapai kosong yang tiada wujud,  itu berarti dimulai pada AH atau penutup dan penutup kebingungan hidup tidak lain pengetahuan, akan tetapi menguasai pengetahuan memiliki dua efek,  menjadi ah-angkara atau angkara yang berpengetahuan atau sebaliknya AH yang AH pada Ong/diri yang mencapai kebijaksanaan

Ahangkara adalah yang belum mencapai kebijaksanaan karena belum berpengetahuan sejati diri,  Ong sendiri terdiri dari seluruh elemen Pertiwi termasuk ang sendiri atau api,  Ong berasal dari ang ah - buka tutup - awal akhir - Akasa pertiwi, sebaliknya ang ah yang tergabung mewujud Ong, ong sendiri Poros penghidup Pertiwi, begitulah rumitnya yang satu dengan yang lain adalah satu kesatuan beda wujud,  dari Ong kara inilah penguraian kelima elemen diatasnya dimulai, diri yang mencapai kosong dalam wujud,  dari kosong berpengetahuan inilah peleburan dimulai,  seiring perjalanan hidup, dari kosong wujud melebur wujud - wujud  dhingga tuntas,  inilah yang dimaksud sebagai pralaya atau pralina sesuai  yuga saat terlahir

Saat mencapai kosong berwujud Ongkara inilah peleburan kelima elemen wujud kasar ini dapat terurai karena peleburan membutuhkan wujud pelebur,  dan jika di urai dari sisi aksara maka Ong berada diantara sabataaai <ong> namasiwaya,  jika ang-ah maka menjadi sabataai/Akasa - namasiwaya/Pertiwi atau SATabaai-SAT >< NAM NAMasiwaya , kosong itu sendiri berada pada wujud atau nirwana

Pada kosong pada wujud inilah kebenaran mewujud,  tidak ada kebenaran tanpa wujud,  jika tidak ada yang mewujud untuk menyatakan kebenarannya, apa yang bisa disebut kebenaran,  sedemikian hanya pada perwujudan itulah kebenaran menjadi fakta,  dan hanya (garis bawahi)  pada kesadaran sempurna sajalah kebenaran itu menjadi ada,  itu berarti yang memiliki pengetahuan atas kebenaran hanya yang berkesadaran sempurna, dan kesadaran itu hanya di miliki oleh manusia

Jika demikian faktanya,  hanya kesadaran itukah pemilik kebenaran itu sendiri,  sekalipun ada sebagian awam menyatakan kebenaran hanya milik Tuhan,  faktanya yang berkesadaran sempurna itulah yang menjadi penentu kebenaran

Bahwasanya hanya kebenaran yang bisa menurunkan keadilan merata dan itu berarti sang pemilik kesadaran itu sajalah yang menjadi penentu kebenaran, setidaknya atas  kebenaran miliknya, jika pemilik kebenaran itu menyatakan diri sebagai wakil tuhan, maka manusia yang mempercayainya akan menyerahkan kebenaran miliknya kepada  Tuhan,  jika diri memiliki pengetahuan yang benar tentang asal usul dirinya,  maka adil tidak adil hanya ditentukan oleh kesadaran-nya sendiri

Siapakah penentu rasa keadilan itu selain kesadaran diri itu sendiri,  siapakah pemilik kebenaran selain perwakilan sadar maha hidup itu sendiri,  siapakah yang dapat mencapai kebijaksanaan selain kesadaran itu sendiri,  semua itu tentang kesadaran, jika ada yang menyembah trisakti maka ketiga kondisi : kebeneran - kebijaksanaan - keadilan itulah trisakti,  tentu saja trisakti itu bukan apa-apa sebelum me-murthi menjadi Tri murti atau mewujud

Atlantia Ra

Post a Comment

0 Comments