SINAR DAN SUARA


Ada masanya kita tidak hanya menutup mata atas ketidak adilan nilai yang  berlangsung di tengah-tengah masyarakat,  semisal setiap saat kita mendengar pertanyaan-pertanyaan naif ; "apakah anda percaya Tuhan" yang tentu saja sangat berbeda makna dengan "apakah anda berTuhan"

Jika setiap individu benar-benar mengerti tentang konsep ketuhanan, pertanyaan- pertanyaan sepicik itu  tidak akan  pernah terucap, jika yang dimaksud sebagai Tuhan sebagai Maha Pencipta adalah Penghidup dan pemelihara sekaligus penghancur, maka setiap diri mewarisi sifat-sifat sang pencipta,  maka setiap diri berketuhanan

‌Celakanya ketika konsep ketuhanan dikotori oleh kepentingan sepihak,  seketika itu Tuhan berubah menjadi senjata yang sangat mematikan,  sebab hidup tidak mungkin lepas dari rasa,  rasa mengarah fanatisme, masyarakat yang di liputi fanatisme membabi-buta samadengan menyerahkan hidupnya sebagai bahan ekploitasi, mereka dengan senang hati menjadi korban retorika doktrin maupun propaganda, mereka mengabaikan kecerdasan atas alasan kesamaan rasa atas kebenaran yang dibela,  akan tetapi tidak satupun dari mereka yang bisa menjelaskan apa yang dianggapnya sebagai kebenaran selain kepentingan atas hidup yang sedang dilangsungkan kesadaranya,  bahkan  penjelasan tentang Tuhan masih samar-samar oleh tebalnya balutan kepentingan

‌Kebenaran akan tetap sebagai kebenaran sekalipun tidak dibela,  karena kebenaran itu sendiri mengandung seluruh jawaban atas kebenaran itu sendiri,  bahkan  Tuhan pencipta dan yang menghidupi kita tidak butuh keyakinan sebab faktanya kita tercipta dan hidup, pun jika dipaksa-paksakan demi alasan kebenaran maka menjadi  meyakini Tuhan bermakna : meyakini penghidup untuk berkehidupan,  meyakini pencipta untuk mencipta di kehidupan, sedemikian meyakini Tuhan bermakna mewarisi sifat sifat ketuhanan, dan ketika sifat Tuhan terwarisi pada prilaku maka ujungnya menjadi manusia berketuhanan,  kesimpulan akhirnya menjadi : yang berprilaku baik berketuhanan yang berprilaku brengsek berkesetanan atau mungkin berkehantuan

‌Bahwasanya semua ini tentang wujud,  kehendak semesta sekalipun jika belum mewujud tidak bisa disebut kehendak, sedemikian hiruk pekok dikehidupan ini semata-mata memyangkut wujud,  wujud yang membenarkan-wujud pula yang mempermasalahkan, dan yang paling lucu,  yang dipermasalahkan oleh wujud itu kebenaran yang tidak membutuhkan salah-benar selain sebagai kebenaran yang terjalani itu saja,  apakah bisa dimengerti

‌Begini,
‌jika seluruh ini diyakini sebagai ciptaan Tuhan,  maka seluruh yang tercipta dan berlaku di kehidupan hanya karena Tuhan (bagi yang meyakini Tuhan)  itu berarti tidak ada yang tidak terjadi tanpa kehendaknya, yang sesuai selera maupun yang tidak sesuai selera adalah
‌kehendaknya,  yang itu berarti dia sendirilah yang menciptanya,  karena hanya dia satu satunya maha pencipta, menjadikan yang dicipta Tuhan (terlepas apapun yang dijadikannya) sebagai bahan perseteruan, itu sama dengan tidak lagi meyakini seluruh kehendak-NYA

Di sisi lain mereka mengklaim meyakini Tuhan, sisi lainya lagi tidak setuju dengan apa yang telah tercipta atas kuasa ciptanya dan yang hanya tercipta olehnya,  apapun wujud ciptanya, nah lo,  faktanya semua orang meyakini Tuhan yang sama yang itu berarti yang membuat mereka berseteru bukan Tuhan tetapi atas kebenaran yang di yakinani-nya,  disisi yang lain : yakin tak yakin-terbukti semua kita dihidupi oleh yang sama,  tanpa pilih kasih,  dan perbedaan yang tampak nyata pada seluruh yang dihidupi itu-terlihat bernilai dari baik-buruk PRILAKU, kenyataanya Prilaku lah penentu kemuliaan wujud-bukan atas apa yang diyakini,  keyakinan sama sebangun dengan kehendak yang belum mewujud,  pada Prilaku kehendaknya mewujud

‌Baik,
‌kita hentikan sejenak bahasa meracau, ada baiknya meningkatkan level sedikit berpura-pura serius atau pura-pura sibuk menghadapi kehidupan ini, ada tiga bentuk dasar : segitiga lingkaran dan kotak,  segitiga melambangkan keseimbangan jika ujungnya diletakan dibawah, sebaliknya melambangkan kekokohan jika berdiri diatas kaki-kakinya,  segitiga melambangkan dinamisme , merujuk kestabilan, dua kaki pembentuk sudutnya melambangkan dualisme penciptaan, segi empat/kotak menyimbulkan soliditas, statis, secara bentuk tidak menunjuk arah tertentu, bentuknya yang familiar cenderung menimbulkan kesan membosankan,di sisi psikologis melambangkan semangat dan ambisi,  lingkaran mewakili kekekalan tidak memiliki awalan akhiran, bulat yang terkecil berupa titik,garis sekalipun terbentuk dari rangkaian titik titik, lebih dalam menyangkut psikis

Ketiga bentuk dasar ini mewakili penerapan bentuk-bentuk selanjutnya,  tantang ruang ataupun wujud yang abstrak, bulat mewakili kepala,badan mewakili  kotak, tangan dan kaki mewakili segitiga, bentuk-bentuk dasar ini juga mewakili bentuk ruang, dari bentuk itu juga di awali ilmu perhitungan luas ruang, sedemikian tanpa bentuk tidak ada apa-apa, jika dikaitkan dengan keributan hidup maka wujudlah yang mengawali keributan, yang mengidentifikasi segala sesuatu bahkan mengacau keseimbangan wujudnya, yang berarti wujud pula yang berperan membenahi kekacauan keseimbangan wujudnya kembali semula

Bahwasanya semua semula tercipta diatas keseimbangan, wujudlah yang memiliki potensi mengacaukan keseimbangan yang mencipta wujudnya, rasa penderitaan ini bukan hukuman Tuhan akan tetapi karena manusia kehilangan pengetahuan kebijaksanaan hidup, sehingga tidak tau cara berselaras dengan keseimbangan yang mencipta wujudnya,  jika mengutip pengetahuan leluhur tetangga sebelah,  kondisi ini disebut NIRAKA/neraka (nir ra kha)  yang tidak mencapai cahaya pengetahuan kebijaksanaan hidup,  dan itu DOSA/KESALAHAN fatal

Bentuk wujud bermula cahaya,  sinar perwakilan wujud tertinggi,  setitik meresap merangkai wujud dan selanjutnya dan selanjutnya, cahaya sinar energi hidup ini bergetar menimbulkan gelombang suara sesuai wadah wujudnya, kesatuan kondisi dualisme  tunggal inilah yang mengawali wujud yang membungkus kehidupan,  pada awalnya titik-titik...dst dst... dari dua sisi inilah kita mulai menyelam di kehidupan dan melalui yang sama pula jalan kembali ke rumah asal

Atlantia Ra

Post a Comment

2 Comments