MEMBANGKITKAN PERADABAN MAHA AGUNG



Mudah mengatakan tetapi tidak pernah mudah menjalankan,  itu fakta kehidupan yang tidak perlu diingkari,  demikian halnya sebuah ide akan menjadi teori kosong tanpa pembuktian, walau sebuah uraian tampak logis akan tetap menyisakan pertanyaan bahkan keraguan,  karena persepsi mengandung prasangka atau kecerdasan mengarah kritis,  khususnya menyangkut hal besar yang belum nyata dan tidak ada jaminan keberhasilan

Mencoba mengulang sejenak,  mengamat-amati bagaimana terbentuknya semesta yang disponsori oleh maha hidup,  wujud adalah fusi dari kondisi maha hidup yang bergerak menjalani evolusi atas kemampuan adaptasi pada kondisi lingkungan sekeliling keberadaanya, hingga yang tiada wujud itu mencapai wujudnya sesuai lingkungan penopangnya,  yang prosesnya sangat panjang dan berkelanjutan, demikian kehidupan manusia

Hidup dan kehidupan sama-sama memiliki bakat adaptasi yang sangat tinggi,  bahkan kemampuan adaptasi itu memaksa perubahan DNA guna kepentingan penylarasan diri terhadap lingkungan hidupnya, jejak jejak fakta itu  terpatri pada wujud-wujud terbaiknya,  dan semua itu dapat dibuktikan melalui penelitian fisik maupun penelitian spiritual,  akan tetapi penelitian spiritual akan selalu mengungguli penilitian fisik karena fisik berangkat dari pembuktian fisik yang notabene berasal mula sisi spiritnya, semisal contoh fakta penanggalan yang tentunya didapat dari ilmu perbintangan  yang bahkan menjadi acuan dunia modern, ilmu yang muncul belakangan didasari ilmu yang ada sebelumnya, demikian halnya manusia belakangan terlahir dari manusia sebelumnya

Tentunya klaim-klaim terbaik tidak begitu penting selain untuk menumbuhkan optimisme seperti pengetahuan kebenaran sejati sebagai pegangan akurat guna menjalani kebenaran hidup, yang kelak pada masa pencapaiannya menumbuhkan optimisme yang tidak padam

Membangkitkan peradaban MAHA AGUNG tentunya terdengar seperti mimpi di siang bolong, bagaimana mungkin membangkitkan peradaban agung sedangkan kekacauan terjadi di setiap lini kehidupan,  dan untuk mengajak atau sekedar mengingatkan saja tidaklah mudah,  ya benar,  semua itu benar ketika memulai segala sesuatu melalui prasangka,  akan tetapi maha hidup menjadikan segala sesuatu tanpa prasangka karena dia mencipta dari kondisi tiada wujud yang sepastinya tanpa prasangka karena belum memiliki wujud, hanya mewujud dari tanpa wujudnya, bagaimana bila kita menirunya walau kita telah pada wujud

Disinilah letak tantangannya,  itulah mengapa sadar disebut yang terbaik di antaranya,yang terbaik diantara wujud dan tiada wujudnya adalah diri, diri perwakilan hidup maha hidup merupakan batas tiada batasnya,  yang tertinggi sekaligus yang terendah oleh adanya rasa, yang adalah pemilik kekuatan hidup yang terorganisir,  yang dapat dikaryakan kearah daya cipta,  kehendak cipta dari keinginan mencipta kebaikan atas hidup yang dipeliharanya,  di titik inilah pengetahuan penciptaan dibutuhkan sebagai patokan memulai perubahan besar, dengan penggetaran melalui diam yang pingit

Halnya maha hidup mencapai wujud ditopang oleh lingkungan sekelilingnya,  demikian penggetaran guna pengkondisian pembentukan sebuah lingkungan baru,  semakin banyak penggetar  kemurnian semakin cepat perubahan terjadi,  sekarang mulai sedikit masuk akal

Penggetaran bukanlah penghancuran akan tetapi merangsang kemampuan adaptasi masing-masing diri,  tentu saja yang terlalu gelap kemungkinan besar tersingkir atau memilih menyingkir karena terlalu silau melihat cahaya kebenaran  dan hal itu semata-mata pilihan individu itu sendiri,  dan bagi yang masih memiliki sedikit cahaya kebenaran dalam diri secara otomatis melakukan adaptasi,  karena demikianlah sifat sejati kehidupan

Atlantia Ra

Post a Comment

0 Comments