MEMBANGKITKAN PERADABAN MAHA AGUNG IV


MEMBANGKITKAN,  terkesan HEROIK,  tentu saja tidak seperti itu makna sejatinya,  karena hanya sebagai PELAYAN melayani rasa hidup maha hidup itu saja,  bahkan pemenuhan kehendak hidup sekalipun bergantung KEBIJAKSANAAN SEMESTA,  yang bangkit adalah KESADARAN DIRI yang menjalani hidup dengan kesadaran diri atas kesejatian diri,  dengan begitu perubahan telah terjadi,  setidaknya di dalam diri

Siapakah yang mampu merubah orang lain,  bahkan Tuhan sampai meluangkan waktu hingga berbusa busa mewahyukan kebaikan hidup,nyatanya tidak pun banyak berpengaruh,  karena setiap diri memiliki kehendak bebas,  setiap diri memiliki kepentingan atas pemeliharaan hidupnya,  menjaga rasa hidupnya  dan seterusnya, diri itu sendiri yang paling tau apa yang baik untuk hidupnya, pilihan hidup apa dan bagaiman yang dianggap membuat kenyamanan untuk kepentingan hidupnya, orang lain tidak berkepentingan menilai pilihan hidup orang lain, karena pilihan hidup dimaksud bersesuaian pada kenyamanan yang di inginkan sang individu

Berhentilah mendikte,  karena dikte akan menghasilkan cibiran walau sebagian besar mereka diam dan memilih senyum dalam hati menyaksikan kebodohan sang penilai, ketahuilah bahwa kebenaran persepsi tidak lain kebenaran prasangka,  jika belum benar-benar menjalani kebenaran itu sendiri atau belum mengalami kesejatiannya maka jangan pernah menghakimi kebenaran orang lain karena suatu saat kebenaran itu sendiri akan mempermalukan klaim kebenaran yang anda yakini

Jika ada pilihan damai menilai dalam hati , untuk apa memilih mengungkapkan penilaian yang hanya akan memicu ketersinggungan yang lai,  terlepas entah itu wahyu atau keyakinan diri, tetap saja sikap seperti itu terlihat kurang bijak menghakimi tingkah laku,  sedangkan yang dimaksud sebagai Tuhan maha pencipta adalah kebijaksanaan tertinggi yang secara logika maha bijak tidak mungkin melakukan tindakan yang tidak bijak, jika ternyata hal itu yang terjadi maka hanya ada satu kemungkinan  [.......]  simpulkan sendiri

Terlepas dari dikte,
saat ini kita sedang berada dalam belitan kerumunan manusia dengan getaran hidup yang kacau,  dan sumber kekacauan itu adalah bagian dari getaran hidup kita juga,  dan kita masih memilih sebatas mengamati kekacauan , belum memutuskan beranjak darinya,  belum memiliki cukup dorongan kesadaran atas kemuliaan hidup yang dilayani,  atau kita masih belum berdaya apa-apa teehadap pekatnya kegelapan yang menguasai getaran energi kehidupan kita, akan tetapi itu cukup menantang untuk dieksplorasi lebih dalam dan semakin dalam hingga ke inti

Dharma wangsa atau wangsa dharma lebih memilih sibuk bergelut dalam prasangkanya, berbeda bagi para Ksatria lebih tertantang mempercepat perubahan, getaran keinginan-keinginan diri dan kehendak perubahan yang pingit yang hanya diketahui dan dilakoni oleh masing-masing diri itulah yang dimaksud sebagai ksatrio piningit,  kehendak perubahan para Ksatria kehidupan inilah yang pada gilirannya  menjadi kehendak semesta, 

Vox populi, vox dei.

Atlantia Ra

Post a Comment

0 Comments