MEMBANGKITKAN PERADABAN MAHA AGUNG III


Warna-warni kehidupan tidak berdaya  terhadap lingkungannya, bahkan kesadaran tidak berdaya oleh pengetahuan hidup yang menjajahnya, karena sifat hidup itu permisif disebabkan bakat adaptasi yang dimilikinya, sedemikian hidup selalu mengikuti kehendak lingkungannya

Tidak apa-apa karena seluruh itu semata-mata kehendak alamiah kehidupan itu sendiri,  siklus kehidupan dan tidak ada sesiapa pun yang dapat menundanya,  seperti halnya terlahir memelihara hidup lalu menemui kematian,  halnya segala yang wujud pasti menemui kehancuran, hanya DIRI yang SEJATI yang TIDAK MATI atau dikenal dengan sebutan AMRITHA yang tidak mati

Jika diri tidak mati maka itu memastikan tidak ada hidup setelah mati karena yang hidup tetap hidup tidak menjalani kematian,  maha hidup bersifat menetap tidak mengalami perubahan walau ia mengambil seluruh wujud namun ia tidak melekat pada wujudnya, sehingga yang melekat itu adalah memorinya atas wujudnya,  tidak ada yang lain karena SADAR hanya didapat saat di dalam WUJUD yang bertugas menterjemahkan rasa hidupnya

Sadar-sadar ini tidak lain PELAYAN terjemahan rasa hidup maha hidup,  yang itu berarti KEMULIAANYA bersifat melekat,  akan tetapi KEMULIAAN itu serta merta sirna ketika diri lupa kesejatian dirinya,  karena sadar adalah tau maka yang tau berpengetahuan,  pengetahuan yang keliru lah yang menjadi penyebab utama ketersesatanya yang pada gilirannya membuat sadarnya mengingkari kesejatian dirinya

Maha hidup mewujudkan seluruh keberadaan yang maha agung ini,  dan hanya dengan manunggal kesejatian diri yang tidak lain perwakilan rasa hidup maha hidup itu sendiri yang dapat membangkitkan peradaban maha agung,  seperti halnya semesta agung yang telah mewujud, jika belum maka layanilah apa yang ada saja,  jika ya maka nunggalah ,  caranya sudah dibabar,  tidak harus menjadi pendeta atau berpenampilan seperti pertapa,  menjadi manusia seutuhnya,  berpenampilan seindah keinginan (jika punya uang)  rok mini pun tidak masalah selama tidak berlebihan,  karena hidup itu diindahkan bukan dikekang sebab pengekangan pasti berakibat hentakan energi yang sama sekuat pengekangnya

Yang perlu dan terpenting diketahui adalah kesejatian diri,  dengan mengetahui kebenaran itu sikap prilaku kita akan selalu berorientasi atas kemuliaan yang diwakili,  sederhana bukan,  tidak butuh buku panduan segala macem,  cukup dengan mengetahui kebenaran diri yang sejati dan bersikap hidup hanya atas kebenaran itu, kebenaran sejati tidak menyisakan celah perdebatan,  karena apapun prilaku yang dijalaninya bertanggung jawab langsung pada sang penghidup yang diwakilinya

Dengan mengetahui kebenaran yang sebenar benarnya kitapun telah membantu Sang maha pencipta agar tidak perlu lagi menurunkan wakil khusus Tuhan yang bertugas menghakimi tindak tanduk manusia lain,  dengan demikian kehidupan berjalan hanya atas sebab akibatnya semata, jika perbuatan jahat yang dipilihnya maka perbuatan itu menjadi tanaman hidup yang akan mengikutinya selama hidupnya,  bahkan mengikutinya saat terlahir kembali,  yang itu berarti kehidupan yang kelam akan selalu mengintainya

Demikian kekacauan hidup di muka bumi inilah neraka,  bahkan wujud itu sendiri neraka yang mengandung ketakutan dan rasa sedih dan rasa cerita dan yang mengandung segenap keterbatasan bagi yang tidak mengerti ketiada batasan sadarnya,  wana atau hutan atau wujud adalah ajang berkecamuknya segala rasa yang dilayani oleh NIR yang tidak lain SADAR itu sendiri,  NIR-WANA,  SADAR dan WUJUD PENTERJEMAHNYA, kehidupan inilah NIRWANA bagi yang mengetahui kesejatian diri,  tidak adalagi nirwana yang lain di dimensi lain karena maksud nirwana sendiri adalah nir/sadar dan wana/tubuh penterjemah sadarnya

Hidup inilah yang mengandung nirwana,  dan hidup yang mewarisi kekuatan maha cipta ini pulalah yang berpotensi mewujudkan kehidupan nirwana di muka bumi,  karena hidup urusan hidup,  setelah mati tidak ada lagi ada hidup maka itu disebut mati,  titik

Atlantia Ra

Post a Comment

0 Comments