MATA KEBIJAKSANAAN


Matahari Atlantis | Apapun sebutanya,  entah keagungan entah kemuliaan entah Tuhan,  yang dimaksud yang sesungguhnya adalah menyangkut penciptaan yang tidak pernah jauh dari kebenaran, semendetail apapun sebuah penjelasan tentangnya tetap berujung pada kebenaran,  yang disebut penciptaan berkaitan dengan yang mewujud,  itu berarti jika tidak ada yang mewujud atau tidak ada yang terwujud - tidak mungkin menyebutnya pencipta atau yang mencipta, dengan kata lain - atas kebenaran yang mewujud (yang tercipta) itu sang Pencipta menyatakan keberadaan dirinya, pada seluruh yang tercipta itu sang pencipta menyatakan kebenaran maha ciptanya

Khusus pada manusia sendiri memiliki kesadaran sempurna dan dengan kesempurnaan sadar itu manusia menyaksikan seluruh yang di ciptakan sang pencipta, bahkan atas kesempurnaan miliknya manusia menyebutnya sebagai Sang Maha Pencipta,  dan oleh kesempurnaan sadar itu pulalah manusia berseteru tentang kebenaran milik sadarnya karena tertipu dan disesatkan oleh pengetahuan yang mengotori kesadaran-nya,  pengetahuan yang didapatnya dari menyaksikan seluruh yang tercipta bahkan dari jejak-jejak kebenaran pencipta yang tertanam di dalam dirinya

Kesempurnaan sadar manusia tidak lepas dari keberadaan tubuhnya yang Maha Sempurna yang itu hanya bisa didapat dari tersedianya rasa hidup yang sempurna pula, sehingga kesempurnaan yang menghidupi manusia diterjemahkan sebagai kesadaran yang sempurna, yang itu kepastian bahwa kesempurnaan sadar itulah satu-satunya jalan mengenali kesempurnaan  Sang Maha Pencipta, sebab hanya kesempurnaan yang dapat mengenali kesempurnaan sendiri

Pun,
kesempurnaan  itu pada gilirannya membingungkan ketika ia melupakan darimana kesempurnaan itu bermula, 
lupa/kealphaan atas asal mula membuat diri yang memiliki kesempurnaan sadar itu tersesat tanpa pegangan,  sehingga pengetahuan yang dia dapat berbalik menjadi tuan kesadarannya, bahwa pengetahuan hasil kesadaran sempurnanya yang dianggap sebagai kebenaran,  mereka menjadi lupa atau tersesat kan oleh pengetahuan hasil kesempurnaan sadar miliknya,  bahwa pengetahuan hanyalah sebatas hasil kesadaran sempurna miliknya

Setinggi apapun pengetahuan yang diraihnya tidak dapat membatalkan kebenaran bahwa kesadaran diri yang memulai seluruh keberadaan diri,  bahwa tanpa sadar tidak ada pengetahuan,  karena sadar itu yang tau sehingga seluruh yang di ke-TAU-i oleh kesadarannya di sebut penge-TAU-an, ynang artinya seluruh yang disaksikan oleh sadar dimaksud yang menjadi pengetahuan,  akan tetapi apa yang dia TAU itu bisa berbalik menyesatkan sadarnya,  sehingga beranggapan pengetahuan miliknyalah yang menjadi asal mula Sang Maha Pencipta,  pengetahuan hasil sadarnya diagungkan - agungkan bahkan dikultuskan melebihi kebenaran Sadar yang mengawali  pewujudan Pengetahuan itu sendiri

Berbicara penciptaan berbicara tentang yang mengawali seluruh wujud, yang mengawali cipta di dalam wujud yang terwujud ini adalah sadar,  selanjutnya perwujudan yang memiliki sadar itu yang berpengetahuan tentang Sang Maha Pencipta,  jika Sang Maha Pencipta yang mengawali seluruh wujud semesta semula kosong maka sadar pada yang mewujud itupun semula kosong,  yang artinya kesadaran sempurna nya dimunculkan atau diterjemahkan oleh tubuhnya yang sempurna

Kebenaran sejati adalah yang sempurna berasal dari yang sempurna,  yang Maha sempurna itu sendiri tidak lain Maha Hidup yang menjadikan seluruh wujud, sehingga seluruh yang dijadikannya pun hidup - karena keseluruhan yang mewujud berasal mula dari yang Maha hidup, akan tetapi terbedakan oleh tingkat kesempurnaan kesadaran hidup masing-masing

Tidak usah membicarakan kebenaran yang lain yang diluar diri,  faktanya diri ini yang memiliki kesadaran sempurna, bahwa  diri  ini saat ini yang harus bergelut pada realitas kesempurnaan sadar miliknya, senang susah sedih bahagia dijalani sadar,  sekalipun diluar diri diluar sana ada entitas lain yang memiliki sadar lebih sempurna dari manusia, kebenaran seperti itu masihlah sebatas prasangka sebelum kesempurnaan tersebut menampakan wujudnya sehingga benar sadar kita dapat mengetahuinya, sebelum kesempurnaan yang lain itu menyatakan diri - sebaiknya kita membijaksanai pelayanan sadar milik diri itu saja

Kebenaran berhubungan dengan kesejatian atau tentang kebenaran yang sesungguhnya atau kebenaran sejati,   bukan yang diada-adakan seakan-akan benar,  semisal tentang sadar adalah pasti yang berasal dari Sang Maha Pencipta,  dan semua manusia memiliki sadar,  sedangkan pengetahuan setinggi langit sekalipun hanyalah hasil terjemahan sadar yang diberikan oleh Maha penciptanya, lalu yang manakah yang bisa disebut sebagai kebenaran yang sejati,  pengetahuan atau sadar itu saja

Bahwasanya jika kesadaran itu tidak bijak menggunakan pengetahuan justru akan membuat dirinya disesatkan oleh pengetahuan tersebut,  kebenaran yang lain - bahwa kesadaran itu hanya bisa ada dari yang hidup atau cerminan dari yang hidup itu sendiri, yang ada hanya berasal dari yang ada,  yang tidak ada tidak akan ada,  yang ada dan yang hidup itu yang menjadi yang sadar,  dan sadar itu yang menghasilkan pengetahuan yang mereka pertentangkan

KEBENARAN sesungguhnya yang benar yang telah TERCIPTA,  yang itu bermakna  menyangkut SADAR  yang berpengetahuan yang BENAR,  sedemikian pengetahuan membuat diri membijaksanai hidup,  sebaliknya pengetahuan yang tidak benar berkecenderungan memunculkan kekacauan, mencipta pertentangan atas kebenaran yang tidak ada, kebenaran hidup adalah tentang wujud, sedemikian kebenaran wujud adalah tentang pemeliharaan hidup - bukan ribuan tahun hanya sibuk mempertentangkan kebenaran

Bisa jadi pertentangan tersebut merupakan kebenaran - jika pemeliharaan kebaikan hidup dapat terwujud melalui pertentangan atau mewujudkan kemuliaan hidup melalui perang,  yang itu berarti kemuliaan hanya untuk yang terkuat, sekalipun itu mengandung kebenaran jika dikaitkan dengan perlombaan sperma terkuat yang dapat membuahi indung telor, akan tetapi disana ada dua sisi,  sperma yang terkuat tidak akan mewujud sebagai apapun selain mati sebagai sperma jika yang dibuahi tidak sempurna

Tentu tidak sesederhana itu memandang kebenaran,  sekalipun tidak mutlak salah,  akan tetapi ada kebenaran-kebenaran yang lebih mulia dari kebenaran prasangka, ada kebenaran yang lebih tinggi daripada ambisi memuliakan kehidupan, yaitu kebenaran sejati yang hanya bangkit ketika kesadaran manusia mencapai kebijaksanaan

Pencapaian kebijaksanaan sadar inilah alasan sesungguhnya mengapa pengetahuan itu diwariskan pada kehidupan selanjutnya,  dan pewarisan itu sendiri sangat tergantung pada tebal tipisnya kesadaran manusia,  karena kesadaran itulah bayangan kesejatian dari yang mengawali hidup dan pengetahuan yang menjadi penopang pencapaian kebijaksanaan 

Kebenaran juga memyangkut kebenaran atas siklus kehidupan - yang tidak bisa tidak pasti mengalami menyurutnya kesadaran hidup, karena kebenaran seperti itulah maka Sang Maha Pencipta menyertakan mata kebijaksanaan untuk memastikan setiap manusia berpeluang mendapati kembali kesejatian dirinya

Sehingga ketika kesadaran mencapai titik terendah sekalipun -  tidak ada kesempatan bagi manusia mencela sang Maha Pencipta hanya menyediakan penderitaan,  bahwa jiwa-jiwa yang tidak ingin menjalani penderitaan - secara otomatis beralih pada kehendak bebasnya, kehendak bebas inilah yang mengarahkannya menemukan mata kebijaksanaan, sehingga setiap diri memiliki peluang yang sama untuk bisa terbebas dari rasa hidup yang memberinya penderitaan,  begitulah wujud keadilan yang sesungguhnya

Sedemikian kebenaran sejati tentang yang tertinggi, dan yang tertinggi pada tubuh adalah kepala - yang didalamnya terkandung kesadaran hidup, bukan tentang rasa hati yang jauh dari kepala dan dari yang menyadari rasa hidupnya,  bukan pula tentang rasa yang disodorkan oleh tubuh - akan tetapi tentang kesadaran yang berkebijaksanaan, kesadaran yang mencapai kebijaksanaan tidak akan terlalu dipengaruhi rasa hati

Bahwa rasa hati sendiri di wujudkan oleh satu sisi yaitu atas keberadaan tubuh, sedangkan sadar adalah bagian dari keduanya yaitu atas penghidupnya dan tubuh yang dihidupi,  sehingga yang selama hidupnya terlalu bergantung pada rasa hati akan berakhir dalam kondisi mono - yang bergerak melompat- lompat dengan satu bagian tubuh, mirip seperti hantu-hantu dalam film-film china atau mungkin seperti dunia perpocongan ,  dan jika wujud wujud yang digambarkan  itu benar itu berarti realita akhir kehidupan mono

Rasa adalah bagian terbawah penciptaan yang berkaitan erat atas wujud,  rasa adalah penyedia kondisi sadar sehingga sadar mendapati realitas hidupnya akan tetapi sadar itu merupakan cermin dari yang hidup yang berasal mula Maha hidup,  sekalipun disangkal mati matian tapi faktanya pengingkaran tidak akan meniadakan kebenarannya,  kebenaran tetaplah kebenaran dan akan tetap sebagai kebenaran sekalipun kebenaran yang lain menjajah untuk menggantikan posisinya tetapi kesejatianya akan selalu muncul sebagai kebenaran

Jika sadar yang mengawali hidup ini, maka suasana rasa hati sendiri bergantung pada keberadaan sadar,  tanpa sadar tidak ada yang merasakan rasa hatinya,  itu berarti rasa hati tidak memiliki kemungkinan sebagai yang tertinggi karena rasa hati harus diawali oleh sadar, yang itu berarti rasa hati tetap bawahan sadar,  jika rasa hati lebih dominan dari sadar maka sadar menjadi budak rasa hatinya,  sadar yang  seharusnya hanya mengatahui rasa hidup berbalik menjadi yang terjajah oleh rasa hidupnya

Rasa berkaitan ang-ung-mang bhur bwah swaha atau tentang lahir-hidup-mati yang disebut-sebut juga di dalam Tri-sandya - nyanyian puja-puji keindah hidup,  Tri Sandya juga berarti tiga keberadaan yang samar-samar atau bayangan,  yang didalamnya juga menjelaskan simbol-simbol manifestasi kekuatan Sang Pencipta juga menyelipkan kebenaran - kebenaran sifat pencipta yang merupakan patokan kebijaksanaan hidup,  yang kebenaran-nya harus diolah dan di urai kembali oleh kesadaran,  semisal aksara yang  berbunyi  OM

OM - OM - OM BHUR BHUWAH SWAH,
............
.............

Om merupakan aksara yang bergetar di ketiga dunia, dunia berarti pada yang wujud pada manusia khusunya, yang lainya menyebut hum dan atau hoong, aksara suci yang mewakili sumber hidup yang bergetar di ketiga alam , aksara sendiri mengandung arti yang tidak mati, akasara merupakan swara/suara yang berasal dari getaran sinar hidup yang sekali lagi berarti pada domain wujud dan kegunaanya ada pada wujud iu sendiri,  sedemikian  pujian tersebut bermakna ungkapan terimakasih pada penguasa ketiga alam bhur-bwah-swaha yang berkelimpahan penerangan sinar cahaya yang maha suci, sinar itu  sendiri mengandung sadar dan maya/ghaib sedangkan yang lebih tinggi dari itu yang mengetahui sadarnya atau RagantaJati

Dan ketiga sub keberadaan itu disebut tiga alam bhur/alam terbawah yang berkaitan dengan rasa hidup yang berporos pada tubuh, lalu bwah atau buah dari semua itu adalah adalah sadar/tau/pengetahuan  dan alam swaha adalah DIRI sejati pada kemandiriannya

Pada saat meditasi memasuki samadhi aksara ini bergetar bagaikan suara deburan ombak atau seperti AUMan harimau,  yang seketika itu membuat diri terbebas dari keterikatan rasa,  memunculkan kedamaian hati tanpa batas,  bahkan tanpa penyebutan sekalipun OM selalu bergetar di tubuh manusia,  memasuki dimensinya berarti menyelaraskan sadar pada aksara dimaksud yang hasilnya kedamaian hati

OM NARAYANAD EWEDAM SARWAM,
..........
..........

Bermakna OM sendiri perwakilan Narayana (yang menjadikan segala) yang selanjutnya disebut : darinya-lah segala yang sudah ada dan yang akan ada ini berasal dan kepadanya semua ini kembali , dialah yang ghaib yang tiada berwujud di atas segala kebingungan, tak termusnahkan, dialah yang maha cemerlang, maha suci, maha esa tiada duanya

Penjelasan diatas dalam pikiran sebagian orang disangka sedang mempromosikan agama tertentu,  faktanya agama hanyalah pengetahuan manusia yang di implementasikan ke kehidupan sehari hari,  agama hanya alat untuk mencapai kebijaksanaan,  dan jika alat tersebut tidak menghasilkan kebijaksanaan hidup maka alat itu bukan alat yang canggih, maka ada baiknya kita kembalikan kebijaksanaan  kepada kesadaran itu saja,  karena hanya kesadaran sajalah yang asli pemberian Sang Pencipta, dan tubuh disediakan sebagai alat penterjemah sadar dimaksud,  tanpa tubuh tidak ada sadar,  tanpa sadar tidak ada pencapaian kebijaksanaan

Hidup adalah tentang kepentingan,  saat ini mungkin mereka berseteru karena perbedaan kebenaran,  akan tetapi suatu ketika saat mereka menyadari kepentingan mereka terancam, mereka akan bersatu padu melawan Para Ksatria Piningit atas kepentingan mempertahankan eksistensi masing-masing, maka dari itu perubahan berrgerak dalam kepingitan

Atlantia Ra

Post a Comment

0 Comments