KETUHANAN YANG MAHA ESA

Matahari Atlantis (Facebook)

Trikona atau tiga sifat kemahaan pencipta,  disimbolkan dengan segitiga,  saat mewujud pada yang maha sempurna ia menjadi dua segitiga bolak balik, selanjutnya berkembang menjadi piramida prima causa, jauh sebelum leluhur kaum Yahudi mempelajari pengetahuan ini,  peradaban-peradaban agung sudah mendahului pencapaian keseimbangan hidup yang jauh lebih kokoh dari kondisi kacau kehidupan bumi saat ini, di dalam lontar lontar leluhur banyak di sebutkan bahwasanya hanya pengetahuan yang bisa melebur penderitaan,  dan sumber pengetahuan berasal dari kesadaran,  baik pengetahuan hidup maupun pengetahuan spirit,  semuanya bermula di kesadaran.

Yang dimaksud sebagai keTuhanan bukanlah penyembahan akan tetapi persembahan, apa yang bisa dipersembahkan dari keterwakilan sadar maha hidup ini, karena semua diri adalah perwakilan hidup dari maha hidup, ketika setiap diri menyadari keterwakilan dimaksud-itulah ketuhanan sejati ,maka kehidupan akan berjalan diatas keseimbangan alaminya, namun sejak pengetahuan kesejatian diri dibelokan menjadi "monopoli-klaim-perwakilan" di saat yang sama hidup kehilangan keseimbangan, kekacauan di muka bumi tidak terhindari,  sebab akibat dari segitiga trikona sifat dasar penciptaan (mencipta memelihara melebur) pun tidak bisa tidak harus dijalani kehidupan.

Darimana engkau menyelam darisana pulalah engkau kembali, jika engkau menyelam kedunia melalui leluhur maka dari leluhur itulah jalanmu kembali kerumah asal, jika engkau mengetahui penyelaman hidupmu dari sadarmu maka hanya kesadaran itu sajalah jalanmu kembali pada kedirianmu, penunggalan pada pencipta-mu.

Halnya sebab akibat demikian perwujudan segitiga trikona  di kehidupan adalah ketiga Agama Abrahamik contoh nyatanya, sejak awal kemunculannya akrab dengan  kekacauan dunia , penderitaan dan pembantaian kaum, perselisihan yang  seekan tidak pernah berakhir, kebencian dan dendam masa lalu menjadi sajian sehari-hari yang dicatatkan ke dalam buku untuk diceritakan berulang-ulang,  sehingga pikiran menganggap itu bagian dari dirinya,  bahkan sebagian  banyak orang dengan bangga mewariskan  benci dendam itu kepada anak-cucu-yang samasekali tidak berkaitan darah, bukan juga kaum atas perseteruan leluhur mereka.

Pencipta Tuhan mengenalkan diri melalui seluruh wujud ciptanya, Tuhan berkomunikasi melalui apa yang dicipta, sedemikian tidak ada ketuhanan tanpa wujud, sebab yang tidak mewujud sebagai apapun bukan pencipta,  yang ada tetap ada,  yang tidak ada tidak akan ada, dan sesuai asas trikona maka klaim monopoli keterwakilan akan mengalami tiga fase, fase kelahiran fase pemeliharaan dan fase penghancuran.

Maha Ada menjalani siklus ada dan tiada, hanya yang ADA yang mengadakan wujud,  disebut Maha Pencipta oleh yang mewujud,
yang ADA dan yang hidup itu  maha-hidup,  dialah sumber dari segala sumber wujud,  sebab dari segala sebab, Maha hidup termanifestasi pada beraneka wujud, ia yang mewujudkan diri menjadi-seluruh wujud,dari eka menjadi beraneka wujud,  dari satu menjadi seluruhnya.

Maha hidup juga disebut paramaatman dan percikan terkecilnya disebut atman yang menghidupi manusia, sisanya diberikan kepada para dewata,  dewata inilah yang menjadi badan roh badan astral dll, dan ketika tubuh wadagh mati - kesempurnaan yang sama yang berasal dari percikan terkecil maha hidup itu yang membuat dewata dapat tetap mengakses kekuatan hidup alam makro, tubuh dewata itu sendiri berasal dari catur sanak, wujud itu sendiri penugrahan dalem/ibu kehidupan.

Kondisi-hidup Atman yang diterjemahkan sebagai kesadaran sempurna oleh otak manusia, kesempurnaan atman ini pula yang diterjemahkan pada kesempurnaan tubuh manusia, sehingga muncul sadar yang sempurna, sedemikian kesadaran manusia merupakan tiga lapisan kesempurnaan yang sama persis dengan asalnya yang mengejawantah,  yang membedakan hanya posisinya atas perwujudan, satu : atman yang mengawali terwujudnya kesempurnaan tubuh manusia,  dua : kesempurnaan tubuh itu sendiri yang memiliki kemampuan menterjemahkan kesadaran atman secara sempurna,  ketiga : kesempurnaan sadar adalah  hasil terjemahan tubuh atas kondisi hidup sang atman.

Apakah hanya manusia yang memiliki atman, sebelum menjawab itu harus diketahui dahulu darimana semua ini berasal,  yaitu paramaatman - Maha Hidup yang Maha Sempurna, Maha hidup ini memiliki tiga level yang sama seperti penyebab -tubuh dan sadar akan tetapi belum mewujud, dan tidak ada yang lain selain Maha hidup itu sendiri yang mengambil wujud-wujud, dengan kata lain dialah sendiri yang menjadi seluruh wujud,

Namun hanya lingkungan yang sempurna yang menjadi penopang pencapaian kesempurnaan wujudnya,   sekalipun kesempurnaan Maha Hidup bersifat melekat - jika lingkungan tempatnya berada tidak menyediakan bahan untuk menopang perwujudan kesempurnaan dimaksud-dipastikan kesempurnaannya tidak bisa  mewujud,  menyangkut proses pewujudan tubuh manusia tidak lain bumi sebagai penyedia lingkungan.

Itulah yang membuat manusia berhutang susu pada ibu kehidupan,  dan siapapun yang terlahir tidak bisa manunggal tanpa membayar hutang susunya pada sang ibu,  sekalipun ia berkeyakinan pada bapaknya di sorga,  itu tidak menjadi penting karena aturan adalah aturan,  karena kehidupan mewujud atas sebab akibat, dan tidak ada kemanunggalan yang tidak melampaui penyebabnya, karena penyebab  adalah penentu.

Penyebab keberadaan manusia adalah alam bumi yang menyediakan tempat tubuh manusia berkembang mencapai kesempurnaan dan memiliki kesempurnaan sadar, sedemikiam sebab pada manusia adalah sebab ada bumi-ada tubuh penyebab sadar yang menterjemahkan kondisi hidup atman,ketiga kondisi itulah  yang diterjemahan menjadi pemilik simbol segitiga trikona alam wujud.

Sedemikian akan selalu ada tiga sisi yang membentuk tiga sudut dan satu ruang,  baik pada yang mewujud maupun pada sumber segala sumber yang menjadi wujud itu sendiri, sehingga maha hidup yang sudah mewujud diatas kesempurnaan nya bersimbol tiga segitiga bolak balik, atau lingga - yoni atau yin - yang atau perusaha - pradana simbol perwujudan sadar.

Cobalah berdiri rentangkan kaki membentuk kaki segitiga dan naikan tangan keatas dengan posisi sama mewakili kaki kaki segitiga, bayangkan dimanakah pertemuan kedua puncak segitiga kaki dan tangan anda, di hati atau di rasa hidup, segitiga atas mewakili  kesadaran/wimanah bercakra sahasrara cakra maka segitiga yang bawah mewakili indria/wamanah yang bercakra muladara, akan tetapi semua itu masih merupakan simbol kehidupan awam, berbeda bila seseorang sudah manunggal lalu menurunkan puncak segitiga atas yang merupakan simbol trikona tiada wujud itu  ke muladara cakra (cakra pengetahuan) demikian pula  ujung cakra di bawah dengan sahasrara cakra, keadaan seperti inilah yang disebut  pencapaian keseimbangan.

Bagaimana menjelaskan keseimbangan tersebut,  begini :  penyatuan puncak segitiga atas yang telah tunggal kesadaran atman dengan muladara cakra akan membuka seluruh pengetahuan hidup tanpa kecuali, sebaliknya penyatuan puncak cakra bawah yang mengandung solar pelxus  atau angkara (kebalikan dari kesadaran)  akan membuat keinginan pemenuhan berdasarkan kebijaksanaan,itulah yang dimaksud dengan kebangkitan kundalini,  tentu untuk dapat melangsungkan semua  itu harus diawali dengan penunggalan yang mutlak tidak boleh makan daging,  begitulah cara kebijaksanaan semesta membuat jaring pengaman,jika belum ada yang mampu-tunggulah  kelahiran berikutnya, tidak ada ini tidak ada itu,  sebab - akibat.

Begitulah yang  sejati yang dimaksud berketuhanan, berketuhanan bermakna menjadi/menunggal  pada ke-Esa-anya, atau tunggal pada yang satu,  berTuhan berarti menjadi satu sebagai manusia seutuhnya,  artinya manusia yang merumahkan penciptanya di diri adalah yang mewarisi sifat-sifat penciptanya,  jika wujud yang menyatakan Tuhan maka ketuhanan-nya mutlak/harus terwujud pada prilaku hidup, jika hanya sebatas klaim - itu bukan keTUHANan akan tetapi keHANTUan,  karena yang  dimaksud Tuhan adalah maha pencipta,  maka kehendak ciptanya pada manusia berwujud prilaku yang mewakili sifat-sifatnya.

Atlantia Ra

Post a Comment

0 Comments