"KELEPASAN MENUJU KESADARAN NIR-WANA" (II)


Berurusan dengan kekuatan raja maya bila dianalogikan mirip seperti kepiawaian penggunaan perangkat internet, secanggih apapun pengguna tetaplah konsumen-bukan penguasa bukan pemilik atau pencipta,  yang tentunya sang pencipta lebih berkuasa dari si konsumen, seperti itu hukum logisnya

Menyangkut kekuatan Trisakti atau Trinitas yang tidak lain yang sama dengan simbolisasi Trikona - tiga sifat kemahaan pencipta,  bila dikaitkan dengan realitas kehidupan memunculkan contoh nyata semulanya ada dua kekuatann adi kuasa yang saling memelihara eksistensi masing-masing,  melihat kemegahan itu memunculkan ambisi yang lain yang ingin memiliki kekuatan yang sama menjadi bagian yang ketiga

Seperti halnya perang Dunia Pertama dan kedua, kemungkinan besar yang selanjutnya perang dunia ketiga, seperti hukum baku wujud mengalami lahir-hidup-mati, bahkan semua itu sudah pernah dicontohkan di sisi spiritualitasnya, dengan kemunculan tiga persaudaraan ketuhanan agama Abrahamik,  dan semua kita sudah menjadi saksi hidup dari sepak terjang dukung mendukung atas ketiga bagian kekuatan tersebut,  dan disinilah kita saat ini dimasa sekarang ini dengan ke'elingan  yang memunculkan  kewaspadaan atas keberpihakan,  bahwasanya segemerlap apapun tawaran kemuliaan hidup di akhir jaman, akan berakhir sama seperti yang telah dicontohkan di sisi spiritualnya

Sekalipun begitu - ya biarlah begitu adanya,  akan tetapi tidak ikut-ikut yang begitu,  redam lah ambisi dengan pengetahuan kebenaran, semata-mata sebagai upaya menyelamatkan hidup,  ngono yo ngono ning ojo ngono,  mengikuti ambisi orang lain dengan mengorbankan diri sendiri tidak bisa di sebut tindakan bijak,  sedemikian kebijaksanaan hidup hanya bisa diraih bila diri hanya bergantung pada kesadaran diri itu saja

Bahwa tidak ada satupun tempat aman di kolong langit ini untuk bersembunyi dari mata tunggal-mata kesadaran, sekalipun banyak yang berasumsi keyakinan adalah jalan mencapai kebenaran,  mungkin itu benar dalam ukuran tertentu atau setidaknya ukuran standar kebenaran diri pribadi,  atau kebenaran yang dipaksakan untuk dirinya sendiri dan samasekali tidak berkaitan dengan keyakinan orang lain dan tidak bisa dikait-kaitkan kecuali diri itu sendiri memutuskan untuk percaya dan meyakini,  karena kewajiban utama diri adalah melayani kesadaran masing-masing, dan kesadaran yang berpengetahuan atas hidup miliknya yang memberi landasan kebijaksanaan kepada diri itu sendiri

Namun keyakinan ini memiliki keunikan tersendiri, yang membuat kita tersenyum senyum saat bertanya pada diri sendiri,  benarkah kita bisa memiliki keyakinan setinggi langit, sedangkan saudara kembar dempet keyakinan adalah keraguan, itu berarti setinggi apapun keyakinan pasti disertai keraguan dengan ketinggian yang sama, artinya lagi- sekecil apapun diri itu dihinggapi keraguan,  maka keyakinan yang susah payah dibangun seumur hidupnya sudah gagal yakin karena goyah oleh realitas kehidupan,  oleh kebenaran itu sendiri

Sama halnya saat kita berbicara kesempurnaan-tidak bisa lepas dari bandul keseimbangan yang melandasi pencapaian kesempurnaan dimaksud,  yang itu berarti : kesempurnaan adalah hasil yang mewujud pada kenyataan/bukan hanya sebatas yang diyakini akan muncul dengan segenap kesempurnaanya, sebab sadar itu sendiri mewakili kesempurnaan yang telah mengejawantah, bukan-baik bukan-buruk,  bukan yakin-bukan ragu, dengan kata lain-mengetahui baik  buruk - keyakinan  keraguan bukanlah sebuah kesempurnaan,  akan tetapi sebatas alat mencapai,  sedemikian tidak ada kebaikan sempurna, begitu juga tidak ada keyakinan sempurna,  dan yang mengetahui kebenaran atas ketidak sempurnaan dualisme diatas adalah SADAR itu sendiri,  yang menghasilkan kesadaran atas ketidak sempurnaan dimaksud

Sekarang kita mengerti bahwa kesempurnaan itu yang telah mewujud nyata,  sekalipun kita menganggap kehidupan dalam kemiskinan tidak sempurna yang sebaliknya tidak ada jaminan kehidupan berlimpah adalah yang sempurna,  terbukti banyak dari mereka yang berakhir dipenjara,  sekalipun berada diluar penjara bukan ukuran kesempurnaan  hidup, bajwa kesadaran kita yang terus-menerus menilai karena seperti itulah alamiah keberadaan sadar dan yang mengamati dualisme tunggal atas kesadaran itu yang sempurna

Demikian halnya dengan penggalian spiritual dualisme itu terjadi, bajwasanya capaian sekalipun mengandung dualisme,  melampaui sekalipun tidak serta merta membuat diri lepas dari kebutuhan pemeliharaan wadagh, perbedaanya hanya mengetahui bahwa dualisme wujud sebagai penggeraknya - diri itu sendiri sebagai pengamat sekaligus penyeimbang bobot kedua sisi bandulnya,  diri berkepentingan membijaksanai gerak bandul atas bobot yang menghasilkan keseimbangan rasa hidupnya

Mata tunggal-mata mata kebijaksanaan ini yang disebut mata yang melihat kesegala penjuru,  yang melihat kesegala penjuru adalah yang melihat dualisme tunggal adalah yang mendasari seluruh penciptaan,  mata ini bukanlah mata akan tetapi kesadaran murni,  yang murni tidak menilai atas dualisme akan tetapi atas kebenaran yang mencipta, tanpa dualisme tinggal tidak ada yang mewujud,  tidak ada wujud tidak ada sadar yang menjadi saksi atas perwujudanya

Mata tinggal juga di istilahkan  nir atau yang bukan akan tetapi keberadaanya didalam wujud,  sebab hanya pada wujud adanya perbedaan antara nir dan wana,  antara bukan wujud dan wujud,  tanpa itu tidak ada pengetahuan,  tanpa itu tidak ada kebenaran mengejawantah,  dan pasti tidak ada persengketaan kebenaran yang dijiwai oleh mereka yang awam

Demikianlah tidak ada keyakinan yang sempurna,  atau bila diri tidak bisa lepas dari keyakinan,  bagaimana bila keyakinan itu dimodifikasi sedikit,  berdiri teguh di kesejatian diri atas  kehendak hidup terbaik dengan keyakinan yang sama seperti meyakini Tuhan,  sedemikian jejak jejak kekuatan cipta yang diwarisi keterwakilan diri itu mewujud menjadi kehendak Tuhan, daripada mewujud-wujudkan Tuhan dengan keyakinan membabi buta tanpa pengetahuan yang benar atas kesejatian dirinya, akumulasi getaran energi  keyakinan yang tidak bertuan akan mencipta alam tak bertuan,  dan alam gelap tak bertuan itu alam kekuasaan RAJA-MAYA

Percaya tidak percaya tidaklah terlalu penting karena hanya realisasi yang bisa membuat sadar memiliki kepercayaan, seperti rasa hidup yang memaksanya mempercayai gejolak rasa sebagai dirinya, sedemikian percaya-tidak percaya bukan tujuan dari pengetahuan karena kebenaran itu sendiri yang akan mewujud menyadarkan diri-diri tersebut,  dualisme bandul timbangan itu yang akan mencerahkan kesadraan endapan kebijaksanaan diri,  bukan atas apa yang dipercaya akan tetapi oleh kebenaran yang mewujud,  begitulah cara kerja kebenaran yang sejati

Mata kebijaksanaan berada ditengah tengah kening, sedemikian sadar berada di tengah-tengah otak   bersinergi saling menopang  kebangkitan kecerdasan dan kebijaksanaan, mata kebijaksanaan tidak terkait atas kebangkitan kepintaran karena pintar iu domain akal yang jika melenceng menjadi manusia yang dipenuhi akal-akalan,  mata kebijaksanaan adalah mata kebenaran atau becik ketitik,  dengan membangkitkan mata tunggal ini seluruh kebenaran terungkap,  seluruh tabir tersingkap,  tepu tepu seluruh penipuan terbaca terang-benderang,  olo ketoro,  jika diri mengetahui penyebab malapetaka kehidupan, bukankah itu jalan keselamatan

Dan memyangkut mata tunggal ini bukan saja dijadikan senjata peng intimidasi di kehidupan fisik, gaya provokasi dan intimidasi agitasi di penggalian spiritual justru lebih heboh, akan tetapi raja maya tidak dapat membunuh kehendak,  yang bisa dilakukanya hanya menyurutkan,  dengan mendatangkan keraguan ketakutan dan rasa tidak berdaya,  akan tetapi tidak ada satupun alasan logis untuk tidak berdaya seburuk apapun kondisi yang dijalani

Hidup itu sendiri mengandung daya hidup, yang bahkan kemahaanya telah nyata mencipta semesta raya, dan diri adalah perwakilan sadarnya,  sedangkan raja maya hanya berkuasa dibawah atmosfer bumi,  tentu kekuatannya tidak sepadan dengan kekuatan atman yang tunggal paramaatman,  adalah keterikatan atas rasa hidup yang membuat diri takluk pada maya,  sedangkan rasa hidup diproduksi oleh wadagh yang akan mati ini dan penguasa tunggalnya tidak lain  raja maya,  matipun sepadan bila itu jalan mengunggal rumah asal/paramaatman,   dengan begitu penderitaan wujud inipun usai

Begitu,
pengetahuan tertinggi hanya bangkit saat perubahan sedang dilangsungkan,  karena sekali bangkit tidak ada apapun yang dapat menghentikanya,  tidak juga Tuhan,  jika pemberlakuan kebijaksanaan causa-prima di kehidupan  berbentuk PIRAMIDA,  sedemikian dengan mudah dipahami bahwasanya satu puncak keteraturan ditopang dasar mandala yang random dibawahnya,  uta protagonis : meresap merangkai, manunggal dengan meresapi pengetahuan tertingginya untuk merangkai kekuatan perubahan atas kehendak kebijaksanaan semesta

Atlantia Ra

Post a Comment

0 Comments