"SORGA NERAKA"


Yang dimaksud sebagai sorga neraka sesungguhnya  kondisi kehidupan wujud, kondisi sorga adalah pemenuhan sebaliknya neraka adalah kondisi penderitaan,  kemiskinan dan kekurangan berarti tidak adanya pemenuhan keinginan, kekacauan termasuk perang tidak lain kondisi neraka

Sorga neraka itu satu kesatuan utuh tidak terpisah-pisah,  yang memisahkannya adalah kondisi hidup yang tidak mendapat pemenuhan dan kondisi serba terpenuhi,  tentu kategori pemenuhan bukan hanya pemenuhan indria belaka tetapi menyangkut pemenuhan terhalus yaitu rasa,  akan tetapi rasa sekalipun terombang ambing oleh dinamika wujudnya,  namun dengan pencapaian SWAHA di RAGA  atau  telah mampu berpegang pada prinsip kemandirian hidup,  akan merasakan kehidupan yang lebih lapang  dibandingkan yang awam, tentu saja untuk sekedar melampaui yang demikian itupun tidak mudah karena menyangkut banyak aspek,  dan aspek pencapaian nyata yang paling utama adalah pemenuhan intelektualitas

Hanya dengan pencapaian intelektualitas sedemikian itu diri bersangkutan dapat membijaksanai rasa hidupnya sendiri, yang itu berarti membutuhkan modal kecerdasan yang memadai guna mengkritisi setiap keadaan yang dilalui dalam hidupnya,  namun tentu saja kondisi ini masih terikat karma kolektif dengan anak istri orang tua maupun lingkungan sekeliling hidupnya,  yang itu berpengaruh kuat atas kegoyahan kondisi yang dicapainya,  bahkan kemungkinan besar akan menenggelamkannya kembali ke kondisi neraka

Sorga dan neraka itu seperti dua sisi mata uang, yang mencapai kondisi sorga adalah yang berpengetahuan tentang kebenaran hidup mendapat tempat bernama swaha  di raga atau sorga,  yang itu kurang lebih berkaitan dengan lumpuhnya respon sensitif atas rasa yang sering kita anggap bersumber-berpusat di hati, akan tetapi pemicu utama dan yang sebenar-benarnya adalah pengetahuan yang mel3kati kesadaran diri,

Fase ini menghasilkan rasa hati lapang atau dingin, kurang lebih seperti hamparan kosong yang maha luas, akan tetapi pencapaian kondisi ini seorang berpotensi menjadi seorang diktator, bertangan besi bahkan bengis,  karena rasanya datar sehingga apapun prilakunya tidak terlalu menghasilkan rasa benar maupun salah, yang ada  baginya hanya kesadaran dan kewajiban atas hidup, kondisi psikis ini pula yang melahirkan para diktator dunia

SWAHA di RAGA adalah kemandirian, dalam artian telah memiliki kemampuan melampaui beberapa bagian rertentu  reaksi kimia tubuhnya akan tetapi bukan keseluruhannya,  begitu mekanismenya tidak ada kaitan dengan berkah Tuhan  akan tetapi atas upaya individual semata, bahkan sebagai yang berbakat khusus bisa dikatakan dapat mengelolanya untuk menyakiti orang menjadi santet atau sihir menggunakan tehnik tertentu

Tehnik ngisi itu membuatnya dapat mempengaruhi dan bahkan menentukan rekasi kimiawi seseorang yang dikehendaki untuk disakiti atau bahkan untuk menguasai pikiran merek,  itulah sebagian penyimpangan kondisi ini,  dan pada penyimpangan pencapaian yang lain melahirkan para psikopat yang memiliki kecerdasan diatas rata-rata akan tetapi respon kimiawi tubuhnya lumpuh, sedemikian kemanusiawiannya  datar, dingin seperti binatang pemangsa yang hanya mengandalkan naluri, sorot matanya cenderung mengesaknan kengerian atas kebengisan rasa hati yang dingin, bahkan memenggal kepala manusia pun dilakukannya dengan senyuman dan tanpa rasa bersalah, yang pada gilirannya mempertontonkan kebengisan seperti itu merupakan neraka bagi manusia yang lain,  sekalipun beralasan karena perintah Tuhan namun pelakunya tetaplah individu berkesadaran

NIR RAKHA atau yang tidak berpengetahuan yang benar tentang hidup, adalah yang menjalani kegelapan hidup,  sekalipun mendapati pemenuhan materi tetap  mendapati dirii tidak  pernah mencapai kepuasan, bahkan dia dirinya sendiripun tidak tau apa yang kurang dan rasa ketidak puasan selalu membayangi nya sebesar apapun capaian di kehidupan materinya,  karena yang di maksud itu sesungguhnya kondisi nirwana atau suka tanpa wali duka,  sekalipun memiliki sedikit materi akan tetapi dapat merasakan kebahagia atas kondisi termaksud,  bukan lagi menyangkut banyak sedikit glamour atau kere,  namun tentang kebahagiaan yang tidak padam oleh kondisi apapun

Jika demikian maka,  "sorga atau kondisi pemenuhan segala" bermakna keseimbangan pemenuhan fisik sekaligus psikis, yang sama sekali tidak ada kaitan dengan banyak sedikitnya perolehan materi, akan tetapi lebih kepada penerimaan diri atas kondisi yang dilayaninya semata,  dan kondisi demikian itu berarti swaha  dijaga atau yang menyangkut kemandirian kesadaran atas kehidupannya,  sehingga kondisi neraka pemderitaan hidup sekalipun tidak mempengaruhi rasanya,  begitu makna duakisme tinggal dua sisi mata uang,  tanpa kedua sisi itu kehidupan tidak eksis, dan kondisi demikian itu menyisakan satu staustaunya pilihan pada kesadaran hidup hanya melayani sadar hidupnya,  dan tidak bisa melarikan diri kemanapun bahkan tidak dengan bersembunyi dikerjakan Tuhan sekalipun,  selain hanya melayaninya

Dan ketahuilah yang sesungguhnya pelayanan itu berulang ulang,  tidak hanya dikehidupan saat ini saja tetapi disetiap kelahiran yang berbeda,  perjalanan yang belum tuntas harus mengulang dan mengulang hingga sang diri menjalani derita hidup yang memaksanya menyadari kehendak bebasnya,  dan atas keinginan bebas dari pemderitaan lahir itu ia berupaya mencari jalan melampaui,  moksha rtam jagadhita atau melampaui sebab akibat wujudnya

Dan jikalau pun dipaksa paksa untuk mempercayai yang tidak ada tentang sorga dan neraka berada di dimensi yang lain selain kondisi kehidupan fisik,  tetap saja sadar tidak akan pernah menjalaninya ketika telah ma lampaui,  karena sadar hanya berlangsung di kondisi fisik, sadar hanya tersedia atas respon kimia tubuh, dan setelah tubuh mati sadaruntuk lenyap menyatu kembali dengan asal mulanya,   lalu apa urgensinya pergi ke sorga di alam kematian jika yang menjalani itu bukan sadar yang sepenuhnya karena hanya sebentuk memori tanpa jiwa,  itu bukan tempat asal sejati  apalagi kemuliaan, itu bisa disamakan sebagai alam hantu sekalipun sebagai peninggalan memori hantu suci,  dan jika itu bukan rumah sejati kita berarti yang berada di sorga dimensi wujud tanpa sadarnya yang sejati itupun kategori ruh-ruh yang terjerat ketersesatanya di saat melayani kehidupan wujud

Jika ada pelaku yang kebetulan bisa bertemu dengan level tertinggi ruh ruh suci itu,  cobalah sekali-kali bertanya bagaimana cara meraih kepatutan (kebenaran)  atau jalan nunggal,  buktikan sendirj seperti apa wejanganya pasti bersifat umum atau bahkan dianugerahi ilmu-ilmu tertentu ,  dengan begitu ilmu yang pernah mengikatnya terwarisikan kepada sang penggali yang hidup yang kemudian akan menjalani kondisi spirit yang sama seperti saat ruh suci itu semasa hidupnya, begitulah rumitnya perjalanan karma yang terkait satu sama lain dalam satu wadah bernama kehidupan,  dan pewarisan itu itu berarti dia berkesempatan melepas sebagian beban pengetahuan yang mengikat memorinya,  jika demikian maka : "siapa yang menolong siapa" siapkah guru siapa murid selain oleh tingkatan kesadaran individu belaka

Dengan demikian kita tahu bahwa sorga neraka ada atas kepemilikan sadar yang melayani rasa hidupnya,  dan rasa hidup itu sendiri tidak lain rasa hidup Maga hidup,  yang berada diantara maha hidup dan tubuhnya memunculkan kesadaran, kondisinya yang demikian membuat sadar itu bukan wujud bukan pula tiada wujud,  ada namun tiada

Atlantia Ra

Post a Comment

0 Comments