"SORGA NERAKA III"


Sorga-swarga bukanlah pilihan terbaik,  karena kehidupan bukan hanya menyangkut diri individual,  mungkin anda sudah terlanjur beristri beranak,  terlanjur memiliki orang tua atau bahkan terlanjur punya kerabat,  mertua dan lain sebagainya, dapatkah seorang pencapai swaharaga tidak bersedih ketika bagian bagian hidupnya mengalami penderitaan,  sekalipun pada kondisi tertentu seorang harus rela melepas anak-anaknya untuk mati berperang demi negara atau kehormatannya

Atau ketika seorang ibu dengan berbesar hati karena berharap  kemuliaan melepas anaknya menjadi pengebom bunuh diri demi menjalankan perintah Tuhan,  tetapi faktanya dia dianggap ibu yang tercela karena restunya menjadi penyebab neraka bagi ibu-ibu yang kehilangan anak dan anak anak yang terpaksa kehilangan orang-tua atas kekonyolan yang dilakukan anaknya

Bunuh diri apapun bentuknya sekalipun bersembunyi mengatas namakan Tuhan tetap saja perbuatan pengecut,  ketakutan dan ketidakmampuan diri mengatasi kebenaran rasa hidup sendiri menimbulkan neraka bagi hidup orang lain adalah pencipta neraka, sekalipun yang dia jadikan perbandingan pemahaman yang menggapnya Tuhan juga membunuh manusia melalui bencana alam, tentu saja pemikiran seperti itu hanya prasangka dangkal,  bagaimana mungkin seseorang membiarkan dirinya demikian bodoh  dengan logika melompat jauh sehingga tidak bisa membedakan pemembunuhan tanpa alasan dan korban bencana karena siklus peremajaan alam tempat manusia bergantung hidup, sebaliknya kehidupan tidak pernah berhutang ketergantungan apapun pada si pembunuh, justru orang-orang gagal paham bermental pengacau seperti mereka hanya memenuh-menuhi bumi , itulah maka di katakan : janganlah engkau mempengaruhi mereka yang bodoh karena itu sangat berbahaya,  dan faktanya sudah banyak kita lihat kebenaran kalimat dari masa lampau itu terbukti  benar kebohohan yang dipaksa sangatlah berbahaya bagi kehidupan dan kita saksi hidup kenyataan yang demikian

Jika yang dianggap benar seperti diatas itu dipertahankan sebagai kebenaran maka perampok begal-maling-koruptor yang memperjuangkan kemaruk sorga pribadi maupun keluarganya atau kelompoknya adalah juga benar,  atau negara yang menjajah negara lain demi kemakmuran rakyatnya tidak bisa dipersalahkan,  karena maksud tujuan mereka adalah demi sorga  hidup

Namun yang demikian itu dianggap benar oleh sebagian orang yang memaksakan kebenaran dirinya semata, memaksakan sorga untuk diri tetapi mencipta neraka bagi yang lain sama sekali tidak benar, mengatas namakan  kebenaran bukanlah anggapan benar akan tetapi yang terwujud, kebenaran adalah yang mengejawantah entah di sisi baik maupun pada sisi yang buruk tetap saja kebanaran atau kenyataan hidup, yang benar menjadi fakta itulah kebenaran,  namun bukan kebenaran sejati karena yang sejati atau kebenaran hakiki adalah sadar itu saja,  "tan hana dharma mengrwa"  tidak ada kebenaran kedua dan tidak ada kesadaran kedua,  kesadaran itu tunggal berup sadar masing-masing  individu,  bina ika tinggal ika,  berbeda itu tunggal itu

Sulit berbicara dalam gelap atau didalam kondisi maya, sama seperti di dunia maya ini tidak tampak wujud hanya gambar dan inisial ,  apakah entah yang sebenarnya yang berbicara lelaki atau perempuan atau bisa jadi tuhan, kita hanya bisa menduga sebelum bertemu dengan sosok yang sebenarnya, bertemu secara langsung yang disebut menjadi saksi kebenaran, dan kebenaran hidup yang terjadi saat ini adalah seluruh hiruk pikuk yang terjadi didalamnya, itukah kebenaran yang mengejawantah, sebelum itu maka belum bisa dikatakan sebagai kebenaran karena masih dugaan atau  bayangan atau harapan bahkan hayalan belaka 

Demikian juga halnya dengan  pengetahuan yang bukan hasil pengalaman hidup pribadi tidak bisa dipaksa-paksa sebagai kebenaran diri,  karena kebenaran yang sejati harus berasal dari kesejatian itu sendiri yaitu pengetahuan yang dijalani oleh sang diri itu yang disebut dharma dan pemaksaan kebenaran yang bukan yang pernah dia jalani sendiri disebut a-dharma atau kebenaran yang bukan atas pelayanan sadarnya sendiri atau kebenaran palsu,  dan jika Tuhan yang sesungguhnya Tuhan memahami kebenaran yang demikian maka dia tidak akan pernah mewahyukan perintah kebaikan hidup, karena hidup itu sendiri tidak dimulai atas perintah siapapun akan tetapi mengejawantah atas mewujudnya sadar sempurna maha hidup itu sendiri,  sadar itu senditi termanifestasi atas wujud dan bukan wujudnya,  Trinitas

Demikian maka setiap pengetahuan diri tidak lain pengetahuan milik maha hidup itu sendiri sesuai pencapaian tingkat kesadaran masing-masing,  ekam satwiprah bahuda wadanti : apa yang engkau maksud tentangnya adalah sama dengan orang lain maksud,  dengan demikian wahyu tuhan sekalipun tidak selayaknya memaksakan kebenaran dirinya kepada wujudnya atau setidaknya memilih mewahyu mengandalkan kebijaksanaan tertinggi, sedemikian Tuhan sekalipun seharusnya eling-waspada agar tidak mengacau kesadaran sejati yang hidup

Kesadaran sejati ada pada kemurnian sadar itu sendiri, hanya pada kemurnian itu diri menemukan Tuhan  bahkan tunggal padanya, pengetahuan hidupnyalah potensi penyesat kesejatian diri, kesadaran yang tersesat tidak menemukan Tuhan,  kesadaran yang sesat yang mengingkari Tuhan,  pengetahuan yang membuat kesadaran tersesat bukan dari Tuhan,  begitulah kebenaran sejatinya

Ketika kehidupan di muka bumi dipenuhi perang,  maka berhentilah berharap sorga karena sisi manusiawi pasti terusik,  karena kekacauan itu sudah berlangsung maka pilihan yang tersisa hanyalah mampaui,  getaran pelampauan masing masing diri itu terakumulasi membentuk atmosfer kebahagiaan bagi seluruh kehidupan di bumi,  getaran energi energi itu yang bekerja mempercepat perubahan ke kehidupan sorga yang diharapkan dan ebijaksanaan semesta yang akan membelah ketersesatan menjadi dua bagian baik-buruk,mirip epos Maha-Bharata tentang sifat-sifat kehidupan akhir jaman, sang pemenang menjadi abu

Darimana ia menyelam dari sanalah ia kembali,  yang memulai kekuasaan dari kekacauan akan di runtuhkan  oleh kekacauan,  yang kalah jadi arang yang menang jadi abu, perubahan terjadi setelah kehancuran, jika hidup adalah pilihan maka pilihan terbaik tidak ikut hancur, berdiri pada pilihan pingit,  tidak usah ikut-ikut tidak menentu, jangan sampai mereka yang minum demi mempertahankan kekuasaan sorga hidup pribadi dan kelompoknya, kita yang mabuk tanpa sorga,  setelah kekacauan neraka baik-buruk akan selalu muncul kedamaian sorga,  dan yang melampaui sadar memimpin kehidupan menuju yang seharusnya

Pada dasarnya meraih sorga dengan menjerumuskan kehidupan orang lain kedalam neraka pada saatnya akan dijatuhkan ke dalam neraka,  sedemikian jalan kesorga yang benar adalah kedamaian dalam diri sekalipun sedang dineraka,  hidup ini NERAKA DERITA jika kita tidak membentuk yug'a terhubung bersama-sama  mencapai sumber dari segala-sumber keberadaan di nirwana guna mewujudkan kehidupan sorga pemenuh segala

Atlantia  Ra

Post a Comment

0 Comments