"ATMAN III"..


Kebenaran luar atau kebenaran wujud adalah kepentingan hidup,  kebenaran dalam adalah kebenaran sejati atas diri yang sejati, kebenaran di sisi yang manapun sesungguhnya bersifat individual, tidak ada satupun alasan yang logis memaksakan kebenaran luar maupun kebenaran di dalam kepada orang lain karena masing masing individu berpegang kebenaranya masing-masing,  jika kebenaran luar dipaksakan kepada setiap orang maka kekacauan kehidupan tidak terhindarkan

Orang-orang sering menceritakan tentang sebuah tempat yang memiliki sumber kekuatan pemenuhan yang tidak ada habisnya, dengan berapi api mengungkapkan bahwa sebanyak apapun dipakai untuk kemakmuran hidup tidak akan pernah habis, akan tetapi mereka sendiri tidak pernah  menemukan sendiri tempat dimaksud sehingga mereka tidak bisa menjelaskan cara mencapainya, cerita yang di dengar dari pencerita yang lain tidak bisa disebut sebagai kebenaran  walaupun kondisi seperti itu benar ada namun kebenaran yang sesungguhnya bukan tempat tetapi pencapaian tetapi kondisi

Tidak satupun manusia yang tidak terhubung dengan sumber yang di maksud,  jika tidak terhubung ia mati,  jika ikatan pada sumber itu lepas maka wujudnya mengalami kehancuran, pengetahuan wujudnyalah yang membuat jarak semakin jauh dari sumber hidupnya,jarak yang dekat bahkan yang nunggal pada kemurniannya menimbulkan kebahagiaan,  jarak yang terlalu jauh akan membuatnya melihat kehidupan sebagai sebuah penderitaan, sebab-akibat

Semisal seorang bayi menangis karena lapar ngantuk atau sakit,  selebihnya hanya memiliki kegembiraan diatas kemurniannya,  kegembiraan itu mulai memudar ketika mendapati beban tugas-tugas hidupnya,  bahkan sebagian mulai membenci ketika kepentingannya di khianati oleh lingkunganya,  pengetahuan hidup yang bertolak belakang memunculkan keputusasaan,  ketidakstabilan emosi dan semakin kebingungan menentukan sikap atas hidupnya,  maka dimulailah individualisme keliru

Tentu yang dewasalah yang paling berperan mencipta lingkungan atas bayi-bayi suci yang mereka lahirkan,  yang mereka bentuk sesuai pengetahuan hidup yang bukan atas kesadaran dirinya sendiri akan tetapi kebenaran lingkungan yang berlaku secara umum, bahwa setiap diri terjepit oleh lingkungan yang dia sendiri belum tentu mengerti apakah itu benar ataukah kekeliruan yang dianggap benar karena banyak orang sepakat atas kebenaran dimaksud, kebanaran paradok, di sisi lain melawan arus lingkungan tentu bukan pilihan bijak,  karena sifat dasar hidup adalah adaptasi atas lingkungan sekeliling hidupnya bukan penentangan, yang tentu berbeda bagi orang orang gila yang telah menyedari kesejatian dirinya,  sekalipun mereka memilih tersenyum melihat kekacauan dimaksud tapi jauh didalam dirinya memancar keinginan yang sangat kuat untuk merubah kekacauan yang tidak dimengerti oleh orang kebanyakan,  di fase kehendak berubah inilah yang dikatakan fase para Ksatria

Bangkitnya jiwa-jiwa Ksatria ini tidak lepas dari strata yang sangat ditentukan tingkat kebijaksanaan individu, perbedaan itu terlihat  dari cara perlawanan atas ketidak nyamanan atas carut marut yang berlangsung di kehidupan, dan tidak ada yang berhak melarang karena ia sendiri sudah siap menghadapi resiko atas perlawanan dimaksud,  sekalipun yang lain menilainya kurang bijak, penilaian apapun itu tidak akan banyak berpengaruh,  yang bisa dilakukan hanyalah introspeksi diri dengan membanding-bandingkan setiap prilaku, lalu memilih mana yang terbaik untuk diri sendiri,  karena sekali lagi kebenaran luar adalah kepentingan hidup pribadi itu sendiri,  besar kecil kepentingan mendatangkan resiko setara upayanya, selain dari itu menyangkut kecerdasan individual

Diam atau tidak konfrontatif tidak ada kaitan dengan kepengecutan akan tetapi menyangkut moment,  tentu benar moment tidak akan muncul tanpa upaya,  menunggu moment tidak akan ada habisnya, kecuali dengan jalan menciptanya atau menjemput moment dimaksud,  mungkinkah mencipta moment,  jika mungkin,  bagaimana mewujud nyatakan moment yang sesuai dengan yang dimaksud,  pastilah itu masalah besar yang membutuhkan energi hidup yang tidak sedikit

Namun ketahuilah sebagian moment dimaksud sudah terwujud,  warna-warni keadaan lingkungan diluar diri itulah pijakan penentu penciptaan moment yang sesuai yang di inginan,  tanpa sebab tentu tidak akan terjadi akibat,  tanpa kekacauan hidup tidak ada keinginan mencipta keteraturan hidup,  seluruh bahan penciptaan itu sudah dipersiapkan oleh kebijaksanaan semesta, yang perlu dan penting ditemukan adalah cara terbaik,  cara yang tidak menyakiti kebenaran individu lain,  cara yang dapat dirasakan sebagai keadilan bagi seluruh individu dan cara seperti itu hanya bisa di turunkan ketika diri telah satu-Esa-Tunggal kebenaran sejati, sehingga setiap diri dapat tersenyum menerima kebenaran atas dirinya,  terlepas apakah ia mampu berubah atau tidak sangat tergantung tebal tipisnya kerak kegelapan yang menyelimuti hatinya,  dan selebihnya eliminasi dilangsungkan hanya oleh kekuatan kebijaksanaan  semesta,  sedemikian diri tidak terimbas karma buruk dari kehendak perubahan yang diinginkan,  karena setiap gerak mengandung karma,  dan sekali berkarma akan menjadi tanaman hidup yang harus dituntaskan di seluruh kehidupan yang dijalani, tanpa kecuali

Tidak mudah merubah sudut pandang keliru yang telah menguasai energi hidup semesta,  akan tetapi bukan tidak mungkin,  saat ini di satu kehidupan ini pun dapat dilakukan,  dan satu satunya jalan adalah dengan mengingkari kekuasaan kegelapan yang menyelimuti energi kehidupan semesta,  mulai dari diri, getaran murni diri-diri itu yang sedemikian rupa bekerja memurnikan kegelapan,  cahaya energi hidup pada kemurniannya itu melarutkan kegelapan,  tidak perlu konfrontatif secara fisik dan tidak perlu ada yang mengetahui apa yang dikerjakan,  kerjakan saja sekemampuan maka semua upaya pada kepingitan itu yang secara otomatis menjadi tanaman hidup,  yang menjadi penentu apa perolehan hidup selanjutnya,tanpa like dislike tetapi atas dasar siapa menanam mendapat sesuai tanamanya, yang di mulai di sisi kehidupan spiritualnya

Tentu menjadi pertanyaan mengapa pilihan perubahan  di sisi spirit yang pingit,  bukankah hidup ini tentang wujud dan kehidupan atas wujud itu sendiri,  tentu upaya wujudlah yang paling mungkin menghasilkan  perubahan nyata bukan doa atau permohonan atau bukan dari sisi spiritual yang notabene tidak tampak dan dianggap sebagai pilihan hidup para penghayal oleh sebagian awam, semata mata karena mereka belum menyadari bahwa seluruh keberadaan wujud dimulai di sisi spirit, dan sadar manusia adalah satu-satunya pewaris kemahaan sang Maha  Pencipta itu sendiri

Kesejatian itu seperti yang di simbolkan dalam pedalangan bahwa kesadaran adalah dalang dari dua-sisi sifat hidup penggerak kehidupan, dua sisi sifat yang pada akhirnya masuk kotak ketika pertunjukan usai,  terlepas apakah sifat baik atau sifat yang buruk yang berkuasa dan memenangkan  alur cerita kehidupan, keduanya sama-sama berakhir dalam kotak gelap dan oleh si dalang itu sendiri yang mengetahui sadarnya yang menjalani kedua sifatnya,  sang dalang sang diri yang sejati,  bahwa sadar dan tubuh dengan kedua sifat yang menyelimuti wujudnya bukan diri,  diri adalah yang mendalangi sadar atas kulit hidupnya yang digelayuti  kedua sisi sifat-sifatnya,  sifat-sifat yang akan lenyap ketika tubuh fisik mati,  dan ki Dalang nunggal kembali pada sumbernya pada asalnya

Pun,
Dalang dan kulit wayang sama sama dalang, sifat-sifat itu merupakan kulit kehidupan  yang mendasari cerita kehidupan,  tanpa kedua sisi sifat dimaksud kehidupan tidak bergerak dan hidup tidak bercerita, gerak wayang disponsori potensi gerak semisal di tubuh berupa potensi denyut yang berdenyut atas independensinya,  yang tidak terikat atas perintah sadarnya, demikian pula pelayanan kekuatan dewata yang berporos tubuh fisik itu bersifat independen,  wadah kedewataan itu berupa cakra, cakra adalah wadah spiritual yang bergerak sesuai keluar masuknya nafas, nafas itu membawa muatan energi makanan spiritual (wirakarana ) yang tercipta dari cahaya matahari,  bintik bintik cacing cahaya berwarna perak sebesar seujung jarum yang bergerak seperti komet,  ini pula yang menjelaskan mengapa banyak kematian terjadi saat menjelang pagi,  karena saat malam hari wirakarana makin menipis karena ketidakstabilan hadapan matahari memproduksi wirakarya,  sehingga tubuh tidak mendapat pasokan wirakarana yang cukup untuk menopang ikatan tubuh atas penghidupnya,  demikian sekelumit kondisi independensi masing-masing antara sadar dan wujudnya

Kedewataan itu tidak lain pelayan pemelihara kehidupan wujud biologis, terutama dan yang paling sempurna adalah kedewataan manusia,  dia bergerak secara sistematis menjaga keberlangsungan hidup wujudnya,  dewata ini bukanlah buatan wujud akan tetapi keberadaanya integral atas wujudnya, sesuai tingkat kesempurnaan wujudnya,  kedewataan ini menyangkut naluri hidup naluri cipta dan yang mengikat memori hidup,  dan saat fisiknya mati tidak ada lagi tempat bagi cakra-cakra  memperoleh pasokan wirakarana maka kedewataan inipun lepas berdiri di atas kemandirian potensi denyutnya,  begitulah asal mula adanya kehidupan di dimensi wujud bukan fisik,  dan memori itu yang kembali di raih oleh yang lahir, saat sang diri mencapai kesetaraan getaran pada memori hidup masa lalu dimaksud,  memori itu samasekali bukan dijalani disaat kematian akan tetapi disaat terlahir kembali,  jangan di bolak balik,  sesat nanti

Jika telah benar-benar memahami kebenaran yang sejati,  tentu lebih mudah bagi kita mengambil sikap memilih pandangan terbaik dalam pelayanan hidup ini, sebab hidup tanpa arah yang pasti memiliki kemungkinan besar  tersesat, terlapas apakah ketersesatan itu diakui ataupun tidak,  semua itu kembali kepada karma tanaman hidup masing-masing diri,  diri itu sendiri bertanggung jawab langsung kepada penghidup yang dilayaninya,  diri di atas sadarnya bersifat tunggal,  tidak ada sadar diri yang kedua,  sadarnya milik dirinya,  begitu juga pengetahuan dan kebenaran dirinya hanya untuk dirinya dan tidak akan pernah menjadi kebenaran bagi orang lain,  tidak ada kebenaran  yang kedua, sadarnya adalah kebenaran dirinya yang berlaku sama pada sadar yang lain,  ekam sat wiprah bahuda wadanti,  kebenaran yang engkau maksud adalah yang sama yang dimaksud oleh yang lain,apa gunanya dipertentangkan  seakan akan kebenaran dimaksud sudah pasti m3mbawa kebaikan bagi hidupnya,  faktanya diri itu sendiri mengalami keraguan saat kondisi hidupnya bertolak belakang dari apa yang dia harapkan

Maka jangan pernah memaksakan kebenaran kepada yang lain karena masing masing diri mengandung kebenaran milik sendiri-sendiri,  dan kondisi itu memastikan tidak akan pernah ada kebenaran yang seragam kecuali kebenaran atas kesejatian diri itu saja,  dan janganlah engkau memaksakan kebenaranmu pada mereka yang perjalanan evolusi spiritualnya belum cukup karena itu berbahaya, jika memungkinkan berilah mereka pengetahuan tentang kebenaran diri yang sejati,  selebihnya biarlah ia berjalan dengan evolusinya sendiri-sendiri

Bahwa cara satu-satunya terhubung kembali dengan kekuatan pemenuhan tiada batas itu hanya dengan cara mencapai kesejatian diri,  tidak ada cara lain,  dan mencapai kesejatian diri itu disebut moksha atau kesadaran melampaui wujud, hanya dengan cara demikian kekuatan pemenuhan yang tiada batas dapat diturunkan ke kehidupan bumi,  tentunya tidak semudah membalikkan telapak tangan,  perlu kerja keras dalam kesamaan keinginan,  merubah getaran energi kehidupan yang sedang menguasai kehidupan kita saat ini

Bisa dibayangkan kemaha sempurnaan kekuatan sang maha hidup itu mencipta semesta maha Agung,  bagaimana bila kita turunkan sebagian kecilnya untuk kebaikan kehidupan bumi,  tentu akan menjadi sebuah riset spiritual yang menarik untuk di explorasi,  daripada hanya mengandalkan peninggalan kekuatan kemakmuran masa lalu yang terbatas, yang tersalur melalui para dewata atau jin malaikat yang terbatas dan tidak akan cukup untuk semua manusia,  itulah mengapa terjadi jurang perbedaan yang miskin dan yang kaya-raya, sampai kiamat pun keadaan itu tidak akan berubah jika tidak ada yang berkeinginan mulia merubah keadaan tersebut,  tentu saja untuk merubah pemenuhan atas keadilan dan pemerataan tidak bisa dengan menyembah, cara satu-satunya adalah dengan membumikan kekuatan maha pencipta ke kehidupan bumi, masing masing diri berperan di lingkungan masing-masing, dan cara menjadi itu adalah dengan melampaui wujud

Sesungguhnya sang diri sejati (kesadaran atman) tunggal  pada sumber sadarnya,  akan tetapi pengetahuan hidup yang membelit sadarnya yang memunculkan jarak atas kemanunggalanya sendiri,  jarak yang dia buat sendiri pada gilirannya membuatnya kebingungan sendiri atas hidup ini,  takut ragu dan pertanyaan-pertanyaan yang tidak terjawab,  dan bagi yang sudah mengerti - tidak ada formula instant untuk merubah kondisi itu selain dengan melampaii dan selanjutnya menjalani pelayanan  suci, tentu saja berat jika dilihat dari sudut pandang persepsi, tetapi tidak berat jika menyadari kemuliaan diri yang disandang sebagai pewaris sadar maha hidup, namun tidak ada keharusan apalagi paksaan,  semua sesuai kehendak bebas individual dan terutama sesuai tingkat evolusi masing masing,  akan tetapi ketahuilah kondisi itu menyangkut satu-kesatuan pada rangkaian yang teresapi,  tidak ada kemungkinan semau guwe,  karena kekuasaan kebenaran sejati bergulir di atas rel kebijaksanaan semesta

Dan bagimu yang telah menjalani kebenaran dimaksud,  silahkan gunakan itu untuk membantu saudara-saudara sekelilingmu,  raihlah kemuliaan dari membantu saudara-saudaramu,  dan ketahuilah bahwa sang Maha pencipta tidak pernah mau berhutang,  pelayananmu atas kebenaran yang sejati adalah menerima yang setimpal pada kehidupan materi,  itu kemuliaan hidupmu yang tidak bisa dirampas oleh yang tidak berhak atas apa yang engkau tanam,  semoga dimudahkan

Atlantia Ra

Post a Comment

0 Comments