"ATMAN II"


Yang menjalani sadar itu tidak bisa melihat dirinya sendiri, yang terlihat hanya sadar dan wujud penyedia sadarnya,  tanpa wujudnya IA kembali tunggal  nir, wujud yang menterjemahkan sadarnya, sadar itu sendiri bukan diri yang sejati karena sadar diadakan oleh wujudnya,  yang melampaui atau yang mengamati sadar-nya itulah diri yang sejati -raganta jati

Raganta jati atau diri sejati hanya termanifestasi saat mengambil wujud, wujudlah yang memberinya identitas sebagai diri, sebelum mewujud dia tidak memiliki identitas tidak memiliki guna, halnya Tuhan/maha hidup sebelum mengambil wujud disebut nir-guna Brahman atau pencipta yang belum memiliki guna atau belum mengambil peran, tanpa wujud tidak memiliki guna - nirguna Brahman : pencipta yang belum mengambil wujud atau belum mencipta  sehingga belum bisa disebut berguna,  sekalipun seluruh wujud berasal mula darinya namun tetap saja kekuatan semesta yang belum mewujud tidak memiliki guna

Manusialah yang memiliki peluang mendaya-gunakan Nirguna Brahman atau energi hidup yang maha luas tidak terhingga itu, pemenuhan terjadi ketika adanya konsistensi optimisme,  getaran hidup yang optimis  akan mempengaruhi kemurnian energi hidup alam makro menjadi kekuatan pemenuhan, akumulasi  getaran kehendak manusia yang dapat membentuknya menjadi kekuatan pemenuhan dan kekuatan mencipta, manusialah yang dapat menurunkan sumber kekuatan pencipta semesta untuk mewujud nyatakan peradaban maha Agung,  cara terhubung adalah dengan mencapai kesadaran diri sejati, merubah sudut pandang melayani kesadaran atman, dibantu dengan  pengetahuan kebenaran diri sejati

Pencapaian kesadaran atman atau setidaknya mengetahui kebenaran diri sejati pada gilirannya akan memunculkan optimisme yang tidak pernah padam, pemenuhan terjadi saat diri mencapai konsistensi optimisme, gelombang optimisme yang tidak pernah padam yang digetarkan otak menpengaruhi energi hidup alam makro yang murni itu,  energi murni yang tadinya vacuum tak bertuan menjadi bertuan getaran energi optimisme, yang tadinya belun  memiliki wujud diwujudkan dengan penggetaran optimisme untuk membantu pemenuhan keinginan yang hidup

Jika kalian memang benar benar menginginkan perubahan tidak perlu dengan bertengkar,  berperang,  saling bunuh,  berebut kekuasaan,  itu cara cara rendah,  cara cara primitif menjual mimpi kemakmuran yang ujung-ujungnya kepentingan pribadi atau golongan, caranya adalah menjadi tuan dari energi murni maha hidup penopang alam semesta,  manunggalah dengan energi tersebut,  tentu ada tata cara dan aturannya dan hanya dengan mengikuti ketetapan itu manusia bumi dapat menurunkan kekuatan pemenuhan tanpa batas,  sebanyak apapun digunakan untuk kepentingan pemeliharaan kehidupan bahkan untuk kemakmuran kehidupan tidak akan habis,  halnya semesta tak terhingga  itu sendiri dicipta oleh kekuatan ciptanya yang tiada-batas apalagi hanya sebatas kemakmuran kehidupan manusia

Di sisi inilah penjelasan piramida prima causa menjadi jelas,  yang random menopang keteraturan diatasnya, bahwa yang melakukan perubahan adalah kebersamaan, saling menopang keseberadaan yang satu dan yang lain, saling membantu asah-asih-asuh, simbol-simbol seperti itu tidak dibuat tanpa kebijaksanaan, sekalipun seseorang telah mencapai puncak piramida kesadaran akan tetapi ia tidak bisa sendirian merubah getaran energi makro yang terkontaminasi getaran kekuatan kegelapan, tan hana wong sakti sinunggal,  bisa pun butuh waktu lama,  sehingga ia akan berupaya mempersingkat nya dengan mengabarkan pengetahuan tertinggi,  untuk memantik bangkitnya para penopang-penopang dibawahnya,  demikian selanjutnya hingga ke dasar dasar piramida, itu jugalah makna uta prota - meresap merangkai,  yang satu dengan yang lain saling terkait pada peresapan yang merangkainya

Masih sangat banyak yang perlu dijelaskan akan tetapi disingkat saja pada pokok-pokok yang di butuhkan hidup,  bahwasanya hidup adalah tentang hidup bukan tentang penghidupnya, bukankah penghidup akan selalu pada kesempurnaanya, sejatinya dia tidak terpengeruh atas penderitaan wujudnya,  namun membiarkan wujud yang menderita tentu bukan pilihan terbaik,  jika demikian hidup yang melayani sadarnya berkewajiban berupaya memecahkan masalah wujudnya,  menemukan jalan mempermudah pemeliharaan hidupnya,  itulah yang sebenarnya yang terjadi disetiap jaman yang dilewati kehidupan, tidak lain tentang memudahkan pemeliharaan hidup wujudnya,  bukan tentang tuhan akan tetapi tentang kegalauan sadarnya atas derita wujudnya

Semua bermula dari maha hidup dan sang maha sendiri memiliki inti yang disebut parama-atman atau (inti) maha hidup yang tidak berujung bertepi yang maha luas tiada-batas, keterbatasanya dimulai saat mewujud

Wujudnyalah pembatas ketiada batasan"nya, dan wujud yang mewarisi inti kesempurnaan maha hidup adalah manusia yang kesadaranya terbatasi oleh kesempurnaan wujudnya, kesempurnaan rasa hidup itu sendiri yang memberi batasan batasan, akan tetapi sesungguhnya sadar tidak beratas,  karena kesempurnaan sadar itu berasal dari inti hidup yang di dalam manusia disebut atman, atman yang terkoneksi dengan inti maha hidup yang tiada - batas atau paramaatman yang bermukim dialam makro, itulah kepastian bahwa tubuh yang berkesadaran atman itulah pembatas ketiada-batasan di atas sadarnya,  tanpa tubuh tanpa sadar IA tunggal kembali ketiada batasan'nya,  hanya begitu saja

Demikianlah mengapa di sebut mokshah atau melampaui, yang artinya melampaui seluruh wujud-wujudnya, melampaui wujud hanya berlaku di dalam wujud,  tidak ada wujud - tidak ada jalan melampaui, wujud musnah sadar pun lenyap,  kesempatan melampaui pun hilang,  kecuali terlahir kembali dan merunut ulang kembali memori kehidupan yang lalu

Tentu saja benar bagi sebagian orang awam tidak ada keharusan mengetahui kebenaran atas kesejatian diri, karena semua ini menyangkut kehendak bebas, satu satunya yang harus adalah melayani sadarnya semata, terlepas apapun yang dieroleh kesadaranya yang menjadi penentu hidup yang dia pilih untuk di jalani, janganlah engkau mempengaruhi mereka yang belum cukup  evolusi spiritualnya karena itu berbahaya, namun mengetahui dan menjalani kesejatian pun bagian dari kehendak bebas itu sendiri

Kehendak bebas pendorong utama bergeraknya kehidupan, semisal kehendak lepas dari keterikatan rasa hidup, ketidaktahuan,  ikatan atas kebodohan, ikatan kemiskinan,  ikatan ketakutan,  keraguan,  rasa rapuh dst dan diantaranya ada keinginan merubah keadaan yang tidak nyaman,  keadaan yang kurang menguntungkan dan lingkungan hidup yang kurang menyenangkan,  tidak adanya kedamaian atau bisa dikatakan seluruh kondisi yang tidak nyaman akan memaksa kesadaran individu berevolusi berubah keadaan hidupnya,  ketahuipah apa yang benar-benar anda inginkan,  lalu putuskan

Ya, 
mengupayakan perubahan adalah yang pertama yang dikedepankan sadarnya saat kehidupan tidak menguntungkan, akan tetapi semua kita mengerti bahwa sebuah perubahan tidak semudah memikirkan'nya, perubahan tidak akan terwunud hanya dengan pikiran atau DOA, hanya dengan melayani keinginan terjadi pemenuhan, yang tidak menginhingkan - tidak punya alasan untuk dipenuhi, kehendak yang menggerakan perubahan, akan tetapi kesulitan menentukan darimana memulainya

Hidup sumber keinginan atas wujud yang dilayaninya, hidup dilayani kesadaran atas wujudnya, namun kesadaran itu di ombang-ambing rasa hidupnya, kadang ragu - kadang takut - kadang sedih-kadang senang dan sebagainya,  dan dari semua itu yang ditemuinya kembali hanyalah  sadarnya,  ya...  Hanya sadar itu yang nyata atas eksistensinya,  yang selain dari itu hanyalah hayalnya,  bayang-bayang ilusinya atau maya atau bukan kesejatian dirinya

Spiritualitas terbagi dua,  antara manu- wimanah-kesadaran atman dan namu- wamanah-kesadaran wujud,  namu terkait erat sisi pradana - sisi feminin atau yang tersirat dan tersurat yang yang merupakan asal-mula pengetahuan,  namu atau sadar atau tau atau pengetahuan merupakan  poros  sisi wujud, maka itu sumber dari sumber segala pengetahuan selalu disebut ibu dari segala pengetahuan dan itu juga berarti ibu dari segala ibu wujud,  ibu- pradana- feminin,  bahwa dasar segenap pengetahuan apapun wujudnya berasal dari siai feminin spiritualnya, tidak terkecuali wahyu Tuhan adalah pradana, sisi feminin atau wamana - wang manah atau sisi wujud

Hidup terkungkung dualisme tunggalnya, purusa-pradana,  sisi maskulin dan feminin,  positif-negatif,  dinamika kedua sisi itu yang menyebabkan hidup menjalani siklus alaminya-yang berubah-ubah, dari tiada wujud menjadi wujud demikian sebaliknya dan seterusnya,  berputar putar tiada akhir,  benih-benih hidup yang berasal dari maha hidup itulah yang menjadi seluruh wujud, dari eka menjadi beraneka, akan tetapi hanya manusia yang mewarisi kesempurnaan hidup yang maha sempurna, sebab pada manusia adanya atman sehingga manusia merupakan perwujudannya yang special atau khusus dibanding seluruh wujud yang dijadikanya,  bahkan para dewata dikatakan oleh Weda hanya diberikan sisanya,  yang berarti tidak memiliki keseluruhan dari kesempurnaannya,  itu maka dikenal adanya racun dewata, bahwa kedewataan sendiri mengandung dualisme obat dan racun yang kedua sisinya berpotensi menghancurkan kehidupan

Cakra tubuh mewakili setiap dewata,  jika dewata utama ada sepuluh maka cakra tubuh harus ada sepuluh, cakra merupakan wadah kekuatan para dewata dan cakra tidak lain perangkat penopang kesempurnaan tubuh , tanpa cakra tubuh lumpuh, cakra menyalurkan wirakarana-makanan spiritual kedalam tubuh melalui tarikan dan hembusan nafas, cakra berputar setengah lingkaran seirama gerak-nafas,  wirakarana dicerna oleh cakra dan dikeluarkan menjadi kekuatan dewata sesuai fungsi masing-masing cakra tersebut

Kekuatan hidup dewata di alam makro dikenal sebagai pengider penjuru mata angi, aliran Budha menyebutnya Budha penjaga penjuru mata angin dewata di alam makro adalah yang tersisa atau yang diberikan sisa kekuatan atman, disebut sisa karena memang sisa dari memori pencapaian para manu semasa hidup dalam wadagh, namun tidak lagi sesempurna kekuatan dewata saat di dalam tubuh wadagh karena tidak lagi memilik fisik sebagai relay penterjemah kekuatan semesta,  itulah maka mereka membutuhkan tubuh manusia yang hidup untuk menyampaikan maksud atau mewariskan pencapaianya atau bahkan bersabda,dengan harapan agar cepat terbebas dari kurangan kedewataannya,  dari dimensi dewata inilah munculnya istilah sabda karena di posisi pencapaian ini penggali biasanya bertemu wujud-wujud peninggalan memori kedewataan

Dewatalah yang diberi sisa kekuatan atman, yang artinya mereka bisa bertahan di alam tanpa wujud tanpa wadagh dengan ditopang oleh  kekuatan hidup alam makro, mengapa demikian karena dewata adalah kumara atau potensi gerak atau denyut tubuh fisik yang geraknya independen tidak bergantung pada perintah sadar, demikian posisi dewata,  itulah sebabnya wujud mereka serupa manusia karena asal mula keberadaan mereka berwujud dari tubuh manusia,  mereka semacam pembantu pelindung yang bergerak secara otomatis sesuai kebutuhan keselamatan hidup sang diri

Jika anda pemuja kemakmuran lebih baik menyembah dewata karena dewatalah  yang disediakan sebagai pembantu kemudahan kehidupan wujud manusia, bukan yang lain yang memang tidak ada karena tidak pernah diciptakan,  tentu jika kita sadar tidak akan menyembah yang tidak pasti karena menyembah yang tidak berwujud membuka peluang wujud-wujud lebih rendah memanfaatkan keinginan kita

Yang lain-lain ada yang menyebut Budha atau Malaikat atau Bhatara,  pada dasarnya sama-sama berasal dari sisa keberadaan wujud manusia
(NB : ini bukan karangan ilusi , sebagai bahan perbandingan kebenarannya tertera di dalam Weda)

Atlantia Ra

Post a Comment

0 Comments